JAKARTA — Lompatan besar menuju kedaulatan energi bukan lagi wacana.
Kajian terbaru Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia mengungkap pembangunan 100 gigawatt (GW) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berpotensi menghemat subsidi bahan bakar minyak hingga Rp 21 triliun serta menyerap 118 ribu tenaga kerja baru.
Tak hanya itu, program ambisius ini diproyeksikan menarik investasi jumbo sebesar USD50–70 miliar sekaligus memastikan pasokan listrik andal bagi puluhan juta warga, terutama di wilayah terpencil yang selama ini bergantung pada pembangkit diesel mahal dan beremisi tinggi.
“The Solar Archipelago”: Peta Jalan 100 GW Menuju Kedaulatan Energi
Kajian bertajuk The Solar Archipelago: Indonesia’s 100 GW Leap to Energy Sovereignty disusun sebagai tindak lanjut arahan Prabowo Subianto pada pertengahan 2025 untuk membangun 100 GW PLTS nasional.
Dokumen strategis ini memetakan langkah komprehensif pembangunan PLTS, termasuk integrasi sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) guna menjaga stabilitas pasokan listrik berbasis energi surya yang intermiten.
Fokus utama lainnya adalah percepatan penghentian bertahap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Langkah ini dinilai krusial untuk:
– Menekan biaya pokok penyediaan listrik di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar),
– Mengurangi beban subsidi energi,
– Sekaligus memangkas emisi karbon nasional.
Kebijakan ini juga selaras dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero).
Desa Jadi Episentrum Energi Surya dan Pertumbuhan Ekonomi Baru
Program PLTS 100 GW tak hanya bicara skala nasional, tetapi juga menyasar transformasi ekonomi desa. Pengembangan PLTS skala desa diproyeksikan menjadi tulang punggung penguatan ekonomi lokal.
Energi surya akan mendukung:
– Koperasi Desa Merah Putih
– Industri kecil dan UMKM
– Rantai pendingin (cold storage) untuk sektor perikanan dan pertanian
– Aktivitas ekonomi produktif lainnya
Dengan pasokan listrik stabil, desa-desa di luar Jawa berpeluang menjadi pusat pertumbuhan baru, mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.
Industri Nasional Siap Tancap Gas
Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kemenko Perekonomian, Sunandar, menegaskan bahwa transisi energi sejalan dengan agenda pertumbuhan ekonomi nasional.
“Inisiatif PLTS 100 GW membuka peluang besar bagi industri dalam negeri karena menciptakan kepastian pasar untuk menarik investasi manufaktur panel surya dan pengembangan rantai pasok domestik sehingga dapat memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja,” ujar Sunandar dalam peluncuran kajian tersebut, Senin (23/2/2026).
Dengan kepastian pasar jangka panjang, Indonesia berpeluang memperkuat industri manufaktur panel surya, komponen BESS, hingga rantai pasok domestik. Efek gandanya: investasi meningkat, lapangan kerja tumbuh, dan ketergantungan impor energi berkurang.
Momentum Transisi Energi yang Tak Bisa Ditunda
Program PLTS 100 GW bukan sekadar proyek kelistrikan, melainkan strategi besar menuju:
– Kedaulatan energi nasional
– Pengurangan subsidi BBM
– Penurunan intensitas karbon
– Penguatan ekonomi desa
– Penciptaan ratusan ribu lapangan kerja
Jika dijalankan konsisten, inisiatif ini dapat menjadi tonggak sejarah transformasi energi Indonesia—dari negara importir energi fosil menuju kekuatan baru energi surya di kawasan Asia Tenggara. (TR Network)
