Riset
Beranda / Riset / 24 Juta Hektare Lahan Pesisir Terancam, Indonesia Hadapi Bom Waktu Pangan

24 Juta Hektare Lahan Pesisir Terancam, Indonesia Hadapi Bom Waktu Pangan

Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah. Dok

JAKARTA – Sekitar 24 juta hektare lahan pesisir marginal di Indonesia berada dalam kondisi terancam serius akibat intrusi air laut, meningkatnya salinitas tanah, banjir rob, serta pencemaran sampah plastik dari daratan.

Kondisi ini tidak hanya mengancam ketahanan pangan nasional, tetapi juga keberlanjutan ekonomi dan ekosistem masyarakat pesisir.

Tekanan perubahan iklim dan degradasi lingkungan membuat banyak lahan pesisir yang sebelumnya produktif kini sulit ditanami.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan solusi riset terapan yang mengintegrasikan varietas padi tahan salinitas dan teknologi pirolisis pengolahan sampah.

Inovasi ini telah mengantarkan BRIN meraih Penghargaan Pertamina Foundation Sains 2025 lalu.

Saat Dunia Dibabat, 5 Negara Ini Justru Menjaga Hutannya Tetap Utuh

Padi Tahan Salinitas, Harapan Baru Sawah Pesisir

Riset yang dipimpin Tri Martini, Peneliti Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, berfokus pada pengembangan dan adaptasi padi tahan salinitas yang mampu tumbuh di tanah pesisir berkadar garam tinggi akibat intrusi air laut dan banjir rob.

“Lahan basah pesisir, terutama di sekitar muara sungai dan kawasan padat penduduk, mengalami tekanan berat akibat salinitas, rob, dan pencemaran. Melalui pendekatan terpadu, lahan yang selama ini dianggap tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan,” ujar Tri dikutip, Jumat (6/2).

Lahan Pesisir dan Ancaman Ketahanan Pangan

Lahan pesisir marginal memiliki peran strategis dalam sistem pangan nasional, namun menjadi kawasan paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Salinitas tinggi kerap menyebabkan gagal panen dan membuat petani meninggalkan sawahnya.

Peneliti Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Vina Eka Aristya, menjelaskan bahwa inovasi varietas padi dilakukan bersamaan dengan model hilirisasi berbasis kemitraan antara lembaga riset, sektor swasta, dan komunitas lokal.

“Pendekatan ini bertujuan meningkatkan produktivitas lahan pesisir, memperkuat ketahanan ekosistem, serta menambah nilai ekonomi wilayah pesisir,” tegasnya.

Indonesia Bersiap Masuk Era Transportasi Rendah Karbon

Sampah Plastik Diolah Jadi Energi Pesisir

Selain persoalan tanah asin, kawasan pesisir juga menjadi titik akhir penumpukan sampah plastik. Melalui teknologi pirolisis multikondensor, sampah plastik diolah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk mesin pertanian dan perahu nelayan.

Anggota tim riset sekaligus pelopor Bank Sampah Banjarnegara, Budi Trisno Aji, menyebut teknologi ini memberi manfaat ganda: mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menyediakan sumber energi bagi aktivitas ekonomi pesisir.

Menuju Pusat Produksi Hijau Pesisir

Kepala PRSIMB BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menilai integrasi antara padi tahan salinitas, teknologi pengolahan sampah, dan partisipasi komunitas membuka peluang besar bagi transformasi lahan marginal pesisir.

“Pendekatan ini berpotensi mengubah lahan pesisir terancam menjadi pusat produksi hijau yang berdaya saing, sekaligus mendukung Program Asta Cita Pemerintah pada sektor ketahanan pangan dan energi,” jelas Nugroho.

Ia menambahkan, inovasi ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam penguatan ketahanan ekosistem pesisir dan ekonomi lokal yang berkelanjutan. (TR Network)

Banjir, Longsor, Siklon: Indonesia Masuk Era Cuaca Mematikan

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *