JAKARTA – Perubahan iklim global kini bergerak lebih cepat dibanding kemampuan manusia memprediksi dampaknya.
Peningkatan cuaca ekstrem—mulai dari hujan intensitas tinggi, banjir, hingga siklon tropis—menjadi bukti bahwa sistem prediksi cuaca konvensional tak lagi memadai menghadapi krisis iklim yang kian brutal.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Eddy Hermawan, menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi merupakan konsekuensi langsung dari pemanasan global yang telah mengubah dinamika atmosfer.
“Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer. Dampaknya terlihat dari kenaikan muka laut, peningkatan cuaca ekstrem, hingga munculnya ancaman baru seperti siklon tropis—Seroja, Cempaka, Dahlia—yang kini bisa terjadi di Indonesia,” ujar Eddy dalam Media Lounge Discussion (MELODI) di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (4/2).
Ia menjelaskan, hujan ekstrem berdurasi pendek umumnya dipicu oleh gelombang atmosfer ekuatorial seperti Kelvin wave. Sementara hujan ekstrem yang berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu dipengaruhi fenomena skala besar seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD).
“Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer, tapi karena La Niña dan IOD. Inilah yang membuat hujan terus-menerus dan berisiko tinggi,” jelasnya.
Eddy juga mengungkap bahwa posisi Indonesia di jalur Asian Monsoon, ditambah karakter geografis Jakarta sebagai dataran aluvial dengan pemanasan panjang setiap hari, menjadikan wilayah ini rawan terbentuknya pusat tekanan rendah dan pusaran atmosfer.
Pusaran angin kuat di lapisan sekitar 500 hektopascal (±5,8 kilometer) membuat hujan tak hanya deras, tetapi juga terkunci lama di satu wilayah, memperparah risiko banjir dan genangan ekstrem.
AI dan Big Data Jadi Kunci
Menghadapi kondisi tersebut, Eddy menegaskan bahwa prediksi cuaca ke depan harus bergerak lebih cepat dari perubahan iklim itu sendiri.
Menurutnya, transformasi menuju sistem berbasis AI, big data, machine learning, dan deep learning bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
“Prediksi cuaca tidak cukup lagi dengan cara lama. Kita harus masuk ke AI dan big data agar prediksi lebih presisi, tepat waktu, dan terlokalisasi,” tegasnya.
Ia berharap riset-riset atmosfer BRIN dapat menjadi landasan mitigasi bencana, pemetaan risiko, serta pengambilan kebijakan publik agar Indonesia tidak terus berada dalam posisi reaktif setiap kali bencana datang.
Selain faktor atmosfer, Eddy juga menyoroti lemahnya daya dukung lingkungan. Alih fungsi lahan dari kawasan hijau menjadi ‘hutan beton’ membuat air kehilangan ruang resapan alami.
“Banjir, terutama di Jakarta, bukan hanya soal hujan ekstrem, tapi juga soal ketidaksiapan lanskap perkotaan menghadapi beban hidrometeorologi yang semakin berat,” pungkasnya. (TR Network)

Komentar