NEW YORK – Dunia tidak lagi menghadapi sekadar krisis air. Bumi kini memasuki fase kehabisan air, dan para peneliti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa konflik dan kekacauan sosial tinggal menunggu waktu jika pola pengelolaan saat ini terus berlanjut.
Menurut laporan unggulan terbaru PBB yang dirilis Selasa, 26 Januari 2026 lalu, sistem air global telah melampaui batas pemulihan. Kekurangan air di banyak wilayah kini bersifat permanen, membuat sistem air tidak lagi mampu kembali ke kondisi historisnya.
“Bagi sebagian besar dunia, ‘normal’ sudah hilang,” kata Kaveh Madani, Direktur UN University Institute for Water, Environment and Health, dalam konferensi pers di New York.
“Ini bukan untuk memadamkan harapan, tetapi mendorong tindakan nyata dan pengakuan jujur atas kegagalan kita hari ini demi melindungi masa depan.”
Beban yang Tidak Merata
Madani menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti seluruh dunia gagal, namun cukup banyak sistem air yang telah “bangkrut” atau berada di ambang kebangkrutan.
Sistem-sistem ini saling terhubung melalui perdagangan, migrasi, dan ketergantungan geopolitik, sehingga risiko global kini berubah secara fundamental.
Beban terberat ditanggung oleh petani kecil, masyarakat adat, warga perkotaan berpendapatan rendah, serta perempuan dan anak muda, sementara manfaat dari eksploitasi air berlebihan justru dinikmati oleh aktor-aktor yang lebih kuat secara ekonomi dan politik.
Dari Krisis ke Kebangkrutan
Laporan ini memperkenalkan konsep kebangkrutan air, yang ditandai oleh insolvensi dan ketidakbalikan.
Insolvensi berarti penarikan dan pencemaran air yang melampaui kemampuan alam untuk memperbarui pasokannya.
Ketidakbalikan merujuk pada rusaknya aset alam vital seperti danau dan lahan basah, sehingga pemulihan ke kondisi awal menjadi mustahil.
Namun Madani menegaskan, kebangkrutan bukan akhir segalanya. Justru ini adalah titik awal pemulihan terstruktur: menghentikan kerusakan, melindungi layanan esensial, merestrukturisasi klaim pemanfaatan air yang tidak berkelanjutan, serta berinvestasi untuk membangun kembali sistem yang tersisa.
Tagihan Ekologis yang Membengkak
Dunia kini menguras “tabungan air” alam dengan kecepatan mengkhawatirkan. Lebih dari 50 persen danau besar dunia menyusut sejak awal 1990-an, sementara sekitar 35 persen lahan basah alami lenyap sejak 1970.
Hampir tiga perempat populasi dunia hidup di negara yang tergolong tidak aman atau sangat tidak aman secara air. Sekitar empat miliar orang mengalami kelangkaan air parah setidaknya satu bulan setiap tahun, dengan dampak kekeringan yang menelan biaya sekitar US$307 miliar per tahun.
“Jika kegagalan ini terus diperlakukan sebagai krisis sementara dengan solusi jangka pendek, kerusakan ekologi akan semakin dalam dan konflik sosial akan makin sulit dihindari,” tegas Madani.
Saatnya Mengubah Arah
Laporan PBB menyerukan pergeseran besar dari respons krisis menuju manajemen kebangkrutan air, dengan pengakuan jujur atas kerugian yang tak dapat dipulihkan, perlindungan ketat terhadap sumber daya air yang tersisa, serta kebijakan yang selaras dengan realitas hidrologi, bukan norma masa lalu. (TR Network)


Komentar