BANDUNG — Selama ini nuklir kerap dipersepsikan identik dengan senjata atau pembangkit listrik. Namun tanpa banyak sorotan publik, Indonesia ternyata telah lama memanfaatkan teknologi nuklir untuk berbagai sektor strategis—mulai dari pertanian, pangan, kesehatan, industri, hingga lingkungan.
Peran krusial ini terus dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui beragam inovasi berbasis iptek nuklir.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN, Isti Daruwati, menegaskan bahwa penguasaan teknologi nuklir merupakan prasyarat bagi kemajuan bangsa.
“Kita harus menguasai bidang nuklir dan antariksa untuk menjadi negara maju, sebagaimana pernah ditegaskan Presiden pertama RI, Soekarno,” ujar Isti saat menerima kunjungan SMP Inklusi School of Human di Kawasan Sains Tamansari, Bandung, Kamis (5/2).
Nuklir Dorong Revolusi Pertanian Nasional
Di sektor pertanian, teknologi nuklir dimanfaatkan melalui teknik mutasi radiasi, yakni penyinaran sinar gamma pada tanaman seperti padi dan kedelai untuk menghasilkan varietas unggul.
Radiasi berfungsi memicu keanekaragaman genetik sehingga peneliti dapat menyeleksi tanaman dengan karakter terbaik.
Hasilnya bukan sekadar eksperimen laboratorium. Teknik ini telah melahirkan 25 varietas padi, 12 varietas kedelai, 3 kacang hijau, 4 sorgum, 1 kapas, dan 1 pisang dengan keunggulan seperti produktivitas tinggi, tahan hama, adaptif terhadap iklim, umur panen lebih singkat, serta kualitas rasa yang lebih baik.
Inovasi ini menjadi senyap namun penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pengawetan Pangan Tanpa Bahan Kimia
Di bidang pangan, nuklir dimanfaatkan untuk menjaga makanan tetap awet, aman, dan berkualitas melalui teknologi iradiasi.
Berbeda dengan pengawetan kimia, metode ini tidak menambahkan zat asing ke dalam makanan, sehingga lebih aman bagi konsumen.
Pemanfaatan iradiasi pangan telah memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Pangan RI No. 7 Tahun 1996, dan diterapkan pada berbagai produk olahan seperti rendang daging, opor ayam, pepes ayam, hingga pepes ikan.
Meski jarang disadari publik, teknologi ini telah menjadi bagian dari rantai pangan modern Indonesia.
Nuklir dan Terapi Kanker Presisi
Sementara di sektor kesehatan, teknologi nuklir memainkan peran krusial dalam diagnosis dan pengobatan penyakit, terutama kanker.
Peneliti Ahli Madya BRIN, Hendris Wongso, menyebut pemanfaatan nuklir kini diarahkan pada pengobatan presisi.
“Nuklir dapat digunakan untuk diagnosis sekaligus terapi kanker secara akurat dan selektif,” jelasnya.
Teknologi radiofarmaka memungkinkan kombinasi diagnostik dan terapi dengan penandaan molekul menggunakan radioisotop tertentu. Paparan radiasi bekerja merusak DNA dan RNA sel kanker secara spesifik, tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Keunggulannya antara lain efek nyeri lebih lama berkurang, tidak bergantung pada dosis tinggi, serta kemampuan membedakan sel normal dan sel kanker.
Potensi Besar yang Masih Senyap
Meski manfaat teknologi nuklir di Indonesia kian luas, pemanfaatannya masih relatif terbatas. BRIN menilai diperlukan dorongan lintas sektor agar inovasi nuklir tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat.
“Harapannya, akan ada dukungan yang lebih kuat agar teknologi nuklir bisa dimanfaatkan secara luas dan berkelanjutan,” tutup Isti.
Di tengah tantangan pangan, kesehatan, dan lingkungan global, satu hal menjadi jelas: tanpa banyak gembar-gembor, Indonesia sebenarnya telah melangkah jauh dalam pemanfaatan nuklir untuk kepentingan damai dan kesejahteraan rakyat. (TR Network)


Komentar