News
Beranda / News / Kuldesak Banjir Jakarta: Kota di Ambang Tenggelam, Butuh Solusi Berbasis Riset

Kuldesak Banjir Jakarta: Kota di Ambang Tenggelam, Butuh Solusi Berbasis Riset

Saat Kota Jakarta lumpuh akibat banjir. Arsip

JAKARTA – Kota Jakarta sedang menuju titik yang tak lagi bisa ditawar. Banjir bukan lagi insiden, bukan pula semata akibat hujan deras. Ia telah berubah menjadi gejala kegagalan struktural kota—hasil akumulasi kebijakan setengah hati, eksploitasi ruang tanpa kendali, dan pengabaian sains selama puluhan tahun.

NASA Prediksi Jakarta Tenggelam, Data Satelit Bicara

Ironisnya, ketika warga masih dipaksa menerima banjir sebagai “takdir tahunan”, lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, justru telah lama memberi peringatan keras: Jakarta termasuk kota pesisir dunia yang paling berisiko tenggelam. Bukan metafora, melainkan kesimpulan ilmiah berbasis data satelit.

Namun pertanyaannya sederhana dan menyakitkan: jika NASA sudah bicara tenggelam, mengapa kebijakan kita masih berkutat di permukaan?

Saat Kota Jakarta lumpuh akibat banjir. Arsip

BRIN: Banjir Jakarta Dipicu Tiga Ancaman Sekaligus

Keran Air Tanah Ditutup: Gedung-Gedung di Jakarta Resmi Dilarang Sedot Bumi

Banjir Jakarta hari ini adalah kulminasi dari tiga bencana yang datang bersamaan: luapan sungai dari hulu, hujan lokal yang tak tertampung, dan rob dari laut yang kian agresif. Ketiganya saling mengunci, menciptakan apa yang oleh para peneliti disebut sebagai perfect storm perkotaan. Inilah kuldesak—jalan buntu ekologis—yang kini dihadapi ibu kota.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah lama mengingatkan bahwa Jakarta dilalui 13 sungai besar, hampir seluruh wilayahnya berada dalam tingkat kerawanan banjir sedang hingga sangat tinggi. Tapi peringatan itu berulang kali kalah oleh kepentingan jangka pendek: alih fungsi lahan, betonisasi masif, okupasi sempadan sungai, dan sistem drainase yang terus dipaksa bekerja melampaui batasnya.

Penurunan Muka Tanah Jakarta: Ancaman yang Diabaikan

Lebih berbahaya lagi, tanah Jakarta sendiri sedang amblas. BRIN mencatat laju penurunan muka tanah di beberapa kawasan mencapai belasan sentimeter per tahun. Artinya, setiap tahun Jakarta turun—perlahan tapi pasti—ke bawah permukaan laut.

Inilah bowl effect: kota menjadi mangkuk raksasa yang menampung air, lalu hanya bisa berharap pada pompa agar tak tenggelam.

Dunia Cari Solusi Iklim, Indonesia Duduk di Atas Harta Karbon Biru Lautan

NASA melihat ini dari atas langit, lewat satelit. Data mereka menunjukkan bahwa sekitar 40 persen wilayah Jakarta kini berada di bawah permukaan laut. Bersamaan dengan kenaikan muka air laut global akibat krisis iklim, Jakarta bukan hanya kebanjiran—tetapi dikepung dari segala arah: dari hulu, dari langit, dan dari laut.

Di titik ini, menyebut banjir sebagai “bencana alam” menjadi bentuk pengingkaran. Yang terjadi di Jakarta adalah bencana kebijakan.

Solusi Berbasis Riset: Jalan Terakhir Jakarta Bertahan

BRIN sebenarnya telah menawarkan jalan keluar berbasis sains: pemantauan penurunan tanah dengan Synthetic Aperture Radar, sistem peringatan dini berbasis kecerdasan buatan, optimalisasi polder dan kolam retensi, hingga kebijakan zero delta Q agar pembangunan tak menambah limpasan air. Semua itu bukan wacana futuristik—melainkan kebutuhan mendesak.

Sayangnya, riset kerap berhenti sebagai dokumen, sementara kota terus dibangun seolah tanahnya tak pernah turun dan lautnya tak pernah naik.

Pulau-pulau Kecil di Ambang Hilang: Krisis Iklim Mengusir Warga dari Tanah Leluhur

Padahal, sejarah kota-kota pesisir dunia menunjukkan satu pelajaran pahit: ketika sains diabaikan, air selalu menang. Jakarta kini sedang berpacu dengan waktu. Bukan soal apakah banjir akan datang, melainkan seberapa besar kerugian yang bersedia kita terima sebelum berubah.

“Banjir memang tak bisa dihapuskan sepenuhnya, tapi dampaknya bisa ditekan,” kata peneliti Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk “Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset” yang digelar Rabu (4/2) di Gedung BJ Habibie, Jakarta.

Kalimat itu sesungguhnya adalah peringatan moral: ketika kerugian terus berulang, itu bukan lagi musibah—itu pilihan.

Kesadaran Publik Menjadi Kunci

Kesadaran publik menjadi kunci terakhir. Sebab kota ini tak akan diselamatkan oleh pompa semata, apalagi slogan.

Jika peringatan NASA, riset BRIN, dan realitas banjir harian masih diabaikan, maka satu hal pasti: Jakarta tidak sedang menuju tenggelam—ia sedang dibiarkan tenggelam. (Newsroom)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *