JAKARTA – Krisis iklim secara perlahan telah menjelma sebagai penghancur masa depan.
Di kawasan Pasifik, bencana terkait cuaca kini menjadi mesin pengusir paling senyap—memaksa ratusan juta orang berpindah dari rumahnya dalam satu dekade terakhir.
Data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat, bencana cuaca telah memicu ratusan juta perpindahan internal di seluruh dunia, dan pulau-pulau kecil menjadi korban paling rentan.
Negara kepulauan seperti Palau kini berada di garis depan krisis. Kenaikan muka air laut, badai ekstrem, dan erosi pantai perlahan tapi pasti mengubah pola hidup, mobilitas, dan masa depan komunitas.
Bencana bukan hanya menghancurkan rumah, tetapi juga menggoyahkan kohesi sosial dan identitas kolektif masyarakat adat yang telah hidup turun-temurun di wilayah pesisir.
Tempat pengungsian memang tak bisa menghentikan laut yang terus naik. Namun, fasilitas ini memberi waktu—waktu untuk bertahan, melindungi nyawa, dan menjaga agar komunitas tetap berakar selama mungkin di tanah leluhur mereka.
Di Palau, proyek-proyek yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi penopang penting dalam upaya bertahan tersebut.
Bagi Di Maech, pekerja konservasi lokal asal Palau, makna upaya ini sangat personal.
“Di Palau, komunitas kami belajar, tumbuh, dan menemukan cara untuk bertahan menghadapi bencana berkat proyek-proyek yang didukung PBB,” ujarnya.
“Ini memberi saya harapan bahwa anak-anak saya masih bisa menikmati bagian terbaik dari Palau—seperti yang saya rasakan saat tumbuh di sini.”
Harapan itu hidup dalam keseharian warga: seorang ibu yang tersenyum sambil menggendong bayinya, anak-anak yang tetap bermain di tengah bayang-bayang krisis, dan komunitas yang menolak menyerah meski ancaman tenggelam semakin nyata.
Investasi pada Kepemimpinan Anak Muda
IOM menilai, perlindungan fisik saja tidak cukup. Ketahanan nasional bertumpu pada generasi muda.
Techitong, perwakilan IOM di Palau, menegaskan bahwa tempat perlindungan bencana memiliki fungsi yang jauh melampaui kondisi darurat.
“Tempat-tempat ini bukan sekadar lokasi evakuasi,” katanya.
“Mereka adalah pusat komunitas—ruang untuk kesiapsiagaan, koneksi sosial, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.”
Techitong masih menyempatkan diri berenang di laut ketika waktu memungkinkan. Laut tetap indah, kuat, dan akrab—meski kini menyimpan ketidakpastian baru.
“Saya tumbuh dengan belajar bergerak mengikuti ombak,” ujarnya.
“Sekarang pekerjaan saya adalah memastikan komunitas kami bisa melakukan hal yang sama: beradaptasi, saling melindungi, dan menjaga Palau tetap berdiri.”
Namun, waktu terus berjalan. Di Kuabes Park, tempat anak-anak muda Palau bermain voli dan berkumpul, para ilmuwan memperingatkan bahwa wilayah ini berpotensi terendam air laut dalam 30 tahun ke depan. Ancaman itu bukan lagi skenario hipotetis, melainkan hitung mundur yang nyata.
Kisah Palau adalah peringatan keras bagi dunia: krisis iklim bukan hanya soal lingkungan, tetapi soal manusia, identitas, dan hak untuk tetap tinggal di tanah sendiri.
Jika pemanasan global terus dibiarkan, perpindahan paksa akibat iklim akan menjadi tragedi kemanusiaan terbesar abad ini—dan pulau-pulau kecil akan menjadi saksi pertama yang tenggelam. (TR Network)


Komentar