JAKARTA — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mempercepat transformasi perumahan hijau dengan mendorong pembiayaan rumah rendah emisi berbasis ekonomi sirkular.
Melalui inovasi pemanfaatan sampah plastik sebagai material bangunan hingga skema cicilan KPR dari sampah, BTN menargetkan pembangunan 200.000 hunian hijau hingga 2030.
Tahun ini, BTN membidik pembiayaan 20.000 unit rumah rendah emisi, bahkan membuka peluang meningkat hingga 30.000 unit. Target jangka menengah ditetapkan 150.000 unit pada 2029, sebelum mencapai angka 200.000 unit setahun berikutnya.
“Harapannya, tahun ini bisa mencapai 20.000 rumah rendah emisi, kalau bisa 30.000 unit. Sampai 2029, kita ingin membangun 150.000 unit dan pada 2030 targetnya 200.000 unit,” ujar Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Rumah Rendah Emisi Berbasis Sampah Plastik
Program rumah rendah emisi BTN pertama kali diluncurkan pada kuartal IV 2024 bersama sejumlah pengembang. Target awal pembangunan 1.000 unit dalam tiga bulan berhasil direalisasikan, menjadi fondasi perluasan program secara nasional.
Hingga akhir 2025, BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk 11.000 rumah rendah emisi yang dibangun di berbagai wilayah, mulai dari Legok (Banten), Cileungsi (Kabupaten Bogor), Medan, Semarang, Cirebon, hingga Bekasi.
Keunggulan program ini terletak pada pemanfaatan material bangunan ramah lingkungan hasil daur ulang sampah plastik sekali pakai.
BTN menggandeng sejumlah startup ekonomi sirkular seperti Rebrick, Plustik, dan Green Brick untuk mengolah bungkus mi instan, sachet sabun, dan kemasan plastik lainnya menjadi lantai, paving block, dan dinding rumah.
“Setiap produsen memiliki produk berbeda, namun saling melengkapi. Dengan pengembangan rumah rendah emisi ini, turut lahir startup-startup baru di bidang daur ulang plastik,” kata Setiyo.
Model Bisnis Inklusif, Didorong ke Seluruh Pulau
BTN menilai model rumah rendah emisi berbasis daur ulang plastik sebagai bisnis inklusif yang dapat dikembangkan di seluruh Indonesia.
Perseroan kini aktif menjaring pengusaha dan startup lokal di setiap pulau untuk memperluas skala produksi material ramah lingkungan.
“Saat ini angkanya baru 11.000 rumah rendah emisi. Kalau mau mencapai jutaan unit, tentu perlu dukungan lebih banyak startup,” ujar Setiyo.
Untuk mempercepat adopsi oleh pengembang, BTN menyiapkan standarisasi insentif berupa paket pembiayaan yang lebih kompetitif. Salah satunya melalui penurunan suku bunga pembiayaan pengembang hingga 25 basis poin bagi proyek rumah rendah emisi.
Cicilan KPR Bisa Dibayar Pakai Sampah
Tak hanya melibatkan pengembang dan startup, BTN juga mengajak masyarakat berpartisipasi langsung dalam pengurangan emisi karbon. Melalui program “Bayar Angsuranmu Pakai Sampahmu”, nasabah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN dapat mengumpulkan sampah rumah tangga yang dikelola startup Rekosistem.
Sampah tersebut kemudian dikonversi menjadi nilai rupiah dan dimasukkan ke dalam tabungan nasabah untuk mengurangi cicilan KPR.
Skema ini mendorong perubahan perilaku masyarakat sekaligus memperkuat konsep perumahan hijau berbasis partisipasi publik.
Portofolio ESG BTN Ditargetkan 60 Persen
Sejalan dengan strategi green banking, BTN menargetkan porsi portofolio kredit berkelanjutan (ESG) meningkat dari 52 persen menjadi 60 persen pada 2026.
Portofolio ini mencakup pembiayaan rumah rendah emisi, ekonomi sirkular, hingga perumahan bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
“Pembiayaan rumah subsidi bagi MBR merupakan bagian dari aspek sosial dalam ESG BTN,” tegas Setiyo.
Dengan mengintegrasikan hunian rendah karbon, startup daur ulang, insentif pengembang, dan partisipasi nasabah, BTN menegaskan posisinya sebagai penggerak utama perumahan hijau dan ekonomi sirkular di Indonesia. (TR Network)


Komentar