SERPONG – Indonesia semakin serius mendorong ekonomi sirkular.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng Fraunhofer IVV, Jerman, untuk mempercepat hilirisasi riset dan membuka peluang kosmetik herbal Indonesia menembus pasar global.
Pertemuan kedua pihak berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Rabu (11/2).
Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Mulyadi Sinung Harjono, menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi sirkular menuntut kolaborasi aktif antara riset, industri, dan masyarakat.
“Industri membutuhkan pelatihan, pendampingan, dan standar keberlanjutan. BRIN hadir untuk memastikan riset bisa langsung dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Kolaborasi ini menitikberatkan pada penguatan kapasitas, transfer teknologi, dan implementasi industri.
Fraunhofer IVV: Pengalaman Teknologi Jerman untuk Riset Indonesia
Fraunhofer IVV berbagi pengalaman teknologi teruji yang sudah diaplikasikan di Jerman, dari pengolahan pangan, pengemasan, hingga daur ulang limbah.
Hasil kerja sama diharapkan dapat masuk dalam program insirkular yang digagas Bappenas dan GIZ.
Sinung menekankan pentingnya lembaga riset yang fokus pada hilirisasi, agar penelitian tidak berhenti di laboratorium.
“Fraunhofer berorientasi ke hilir. Dengan kolaborasi ini, riset BRIN bisa langsung diterapkan dalam industri, menghasilkan produk yang nyata untuk masyarakat,” tambahnya.
Peter Eisner, Wakil Direktur Fraunhofer IVV bidang process engineering dan pengemasan, menyoroti keahlian institusinya: teknologi pangan, mesin pengolahan, pengemasan, kinerja produk, hingga daur ulang.
Fraunhofer IVV juga aktif di Indonesia, termasuk penelitian kakao, pengeringan buah di Lampung, daur ulang limbah plastik di Surabaya, dan produksi bio lubricant di Batam.
Salah satu wujud kolaborasi nyata adalah rencana pembentukan Pusat Kompetensi Kemasan Sirkular, yang akan menjadi platform riset bersama sekaligus mempercepat alih teknologi untuk industri.
Program Insirkular: Transformasi Sektor Swasta Menuju Keberlanjutan
Adhitya Prayoga, Private Sector Advisor GIZ, menekankan bahwa program insirkular adalah implementasi kesepakatan Indonesia-Jerman untuk mempercepat transformasi ekonomi sirkular sektor swasta.
“Kebijakan pengelolaan produk dan material harus memastikan pasar hanya menerima produk berkelanjutan,” jelasnya.
Tak hanya itu, kerja sama ini membuka peluang besar untuk kosmetik herbal Indonesia.
Kosmetik Herbal Indonesia Siap Go Global
Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBOOT) BRIN, Sofa Fajriah, menegaskan riset kosmetik berbasis bahan alam, termasuk produk anti-acne dan antiinflamasi, siap diproduksi massal.
“Dengan kolaborasi ini, inovasi kosmetik herbal Indonesia tidak hanya berhenti di laboratorium, tapi siap masuk industri dan menembus pasar global,” pungkasnya.
Kolaborasi BRIN-Fraunhofer IVV menjadi tonggak nyata hilirisasi riset Indonesia, sekaligus memperkuat agenda nasional menuju ekonomi sirkular inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global. (TR Network)


Komentar