BOGOR — Kabupaten Bogor kini berada di titik paling genting dalam sejarah ekologinya. Banjir bandang di Sentul, longsor di Megamendung, dan luapan sungai di kawasan hulu Ciliwung bukan lagi kejadian musiman. Ini adalah tanda jelas bahwa krisis ekologi Bogor telah berlapis dengan krisis tata ruang.
Data terbaru pada 11 Februari 2026 menunjukkan hujan deras berintensitas tinggi menyebabkan banjir di Babakan Madang. Puluhan rumah terendam, sedikitnya 8 rumah rusak parah, dan sebuah mobil milik pengembang hanyut terbawa arus lumpur beberapa meter sebelum tersangkut.
Banjir dipicu oleh hujan ekstrem dan jebolnya tanggul Kali Cicerewed akibat luapan air.
Hujan ekstrem memang memicu. Namun, penyebab utamanya adalah kerusakan kawasan lindung, alih fungsi lahan masif, serta kebijakan tata ruang yang gagal membatasi ekspansi ekonomi di wilayah rawan bencana.
Banjir Bandang Sentul 2026: Hulu Rusak, Hilir Terancam
Peristiwa mobil terseret arus di Bojong Koneng, Babakan Madang, Februari 2026 menjadi indikator nyata rapuhnya lanskap Bogor. Air bercampur lumpur dan batu mengalir deras dari hulu, menghantam kawasan permukiman.
Wilayah terdampak berada dalam sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane, dua urat nadi ekologis yang mengalir hingga Depok, Bekasi, Tangerang, dan Jakarta.
Ketika hulu kehilangan daya serap:
– Air tidak lagi tertahan vegetasi
– Tanah kehilangan stabilitas
– Sungai berubah menjadi saluran material longsor
Bogor bukan hanya menghadapi bencana lokal. Ia sedang menciptakan risiko regional.
Bahkan dalam dua bulan terakhir, rentetan cuaca ekstrem juga memicu angin kencang yang merusak fasilitas publik seperti kawasan Pakansari, memperlihatkan meningkatnya tekanan hidrometeorologi di wilayah ini.
Krisis Ekologi: Hutan Menyusut, Resapan Hilang
Dalam satu dekade terakhir, kawasan lindung di hulu Sungai Ciliwung menyusut signifikan. Alih fungsi hutan menjadi vila, resort, kebun hortikultura, dan destinasi wisata komersial mempercepat degradasi bentang alam Puncak–Cisarua–Megamendung.
Di banyak titik:
– Lereng dipotong tanpa sistem drainase memadai
– Tanah gembur kehilangan vegetasi berakar dalam
– Sungai kecil membentuk bendungan alami dari kayu dan batu
Saat hujan deras datang, bendungan semu ini jebol — menghasilkan banjir bandang yang membawa batu besar hingga ke permukiman.
Bogor kehilangan fungsi ekologisnya sebagai penyangga air alami.
Krisis Tata Ruang: Regulasi Ada, Pengawasan Lemah
Dokumen RTRW Kabupaten Bogor 2024–2044 mengakui keberadaan kawasan rawan bencana. Namun implementasi di lapangan menunjukkan kontradiksi.
Fakta terbaru di Babakan Madang memperlihatkan:
– Permukiman berdiri dekat bantaran aliran air
– Sistem tanggul tidak mampu menahan debit ekstrem
– Warga terdampak belum sepenuhnya mendapatkan bantuan cepat
– Relokasi belum menjadi kebijakan prioritas
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat telah memperingatkan bahwa izin usaha pemanfaatan wisata alam hingga 35–50 tahun berpotensi menjadi bom waktu ekologis. Banyak kawasan negara diperlakukan layaknya lahan privat tanpa kontrol ketat.
Tata ruang di atas kertas tak berarti jika ruang di lapangan terus dikompromikan.
Infrastruktur Bukan Jawaban Tunggal
Normalisasi sungai, tanggul, dan betonisasi tebing masih dijadikan solusi utama. Namun jebolnya tanggul Kali Cicerewed membuktikan bahwa pendekatan teknis semata tidak cukup.
Hutan tidak bisa digantikan beton.
Tanah tidak bisa digantikan turap.
Ekosistem tidak bisa dipulihkan dengan proyek jangka pendek.
Tanpa moratorium alih fungsi lahan dan evaluasi menyeluruh izin-izin di kawasan hulu, Bogor akan terus berada dalam siklus bencana tahunan.
Jalan Keluar: Restorasi dan Reformasi Tata Ruang
Jika Bogor ingin keluar dari krisis berlapis ini, langkahnya harus tegas:
– Moratorium izin baru di kawasan lindung dan resapan air
– Audit total izin wisata dan properti di Puncak–Cisarua–Megamendung
– Penertiban bangunan ilegal di bantaran sungai
– Rehabilitasi hutan berbasis lanskap, bukan sekadar penanaman simbolik
– Skema relokasi adil bagi warga di zona risiko tinggi
– Pengembangan ekonomi restoratif: hutan buah, agroforestri, wisata konservasi
Bogor adalah hulu bagi jutaan warga Jabodetabek. Jika hulu runtuh, hilir tak akan pernah aman.
Bencana Bukan Takdir, Melainkan Konsekuensi
Krisis ekologi Bogor bukan takdir geografis. Ia adalah konsekuensi pilihan tata ruang dan model pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
Sentul, Megamendung, Cisarua, Babakan Madang — semua memberi pesan yang sama:
Jika krisis tata ruang tidak dibenahi sekarang, maka setiap musim hujan akan menjadi musim bencana permanen bagi Bogor dan wilayah hilirnya. (Newsroom)


Komentar