TOAMASINA – Bencana iklim kembali mengguncang Madagascar.
Setelah Siklon Tropis Fytia memicu hujan deras dan banjir, giliran Siklon Gezani menyapu pelabuhan utama negara itu dengan angin hingga 250 kilometer per jam. Dampaknya disebut “sangat menghancurkan” oleh World Food Programme (WFP).
Direktur WFP untuk Madagaskar, Tania Goossens, mengatakan sekitar 400.000 orang kini menghadapi kebutuhan kemanusiaan akut akibat dua siklon yang datang hanya dalam selang tiga minggu.
80 Persen Kota Rusak, Listrik Lumpuh
Gezani menerjang kota pelabuhan Toamasina—kota terbesar kedua di Madagaskar—pada Selasa malam.
Menurut otoritas setempat, 80 persen wilayah kota mengalami kerusakan, sementara pasokan listrik tersisa sekitar lima persen saja.
“Skala kehancurannya benar-benar luar biasa,” ujar Goossens dari ibu kota Antananarivo, 13 Februari 2026.
Tak hanya rumah warga, satu gudang dan kantor WFP juga hancur total. Hingga kini, laporan resmi mencatat 38 orang meninggal dunia dan 374 lainnya luka-luka.
Keluarga Kehilangan Segalanya
Kerusakan parah melanda rumah tinggal, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga pusat bisnis. Banyak keluarga terpaksa bermalam di rumah tanpa atap atau mengungsi ke lokasi darurat.
Pohon tumbang dan puing bangunan menutup akses jalan. Krisis bahan bakar memperburuk distribusi bantuan.
“Keluarga-keluarga mengatakan kepada kami bahwa mereka kehilangan segalanya. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana mendapatkan makanan berikutnya,” kata Goossens.
Ancaman Penyakit dan Krisis Air Bersih
Selain kebutuhan pangan mendesak, WFP menyoroti krisis air bersih dan sanitasi. Infrastruktur yang rusak meningkatkan risiko wabah penyakit, terutama di tengah kondisi pengungsian.
Kelompok rentan—perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas—disebut menghadapi risiko perlindungan yang meningkat.
Krisis Pangan Memburuk, Dana Menipis
Bencana ini terjadi saat Madagaskar sudah berada dalam situasi ketahanan pangan yang rapuh.
Sebelum dua siklon tersebut, 1,57 juta orang di seluruh negeri mengalami kerawanan pangan, termasuk 84.000 orang dalam kondisi darurat kelaparan menurut data IPC (Integrated Food Security Phase Classification).
Madagaskar juga tengah memasuki puncak musim paceklik. WFP memperingatkan adanya kesenjangan pendanaan sebesar USD18 juta untuk enam bulan ke depan, mencakup respons musim paceklik dan tanggap darurat siklon.
“Kami membutuhkan dukungan berkelanjutan untuk membantu masyarakat pulih, membangun kembali, dan memperkuat ketahanan mereka terhadap guncangan berikutnya,” tegas Goossens.
“Musim siklon baru saja dimulai. Ini mungkin baru permulaan.” (TR Network)


Komentar