BOGOR – Sorgum dan gandum tropika digadang-gadang menjadi kunci transformasi pangan nasional.
Di tengah tekanan perubahan iklim, keterbatasan lahan produktif, dan ketergantungan tinggi terhadap gandum impor, inovasi pemuliaan tanaman dari IPB University menghadirkan harapan baru bagi ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Prof Trikoesoemaningtyas, menegaskan bahwa masa depan produksi pangan tidak lagi bertumpu pada lahan ideal.
Dari total 189,1 juta hektare daratan Indonesia, sekitar 91,1 juta hektare merupakan lahan suboptimum yang selama ini belum dimaksimalkan secara produktif.
“Inilah ruang masa depan produksi pangan kita. Lahan bercekaman bukan hambatan, melainkan peluang jika didukung inovasi pemuliaan yang tepat,” ujarnya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar, Sabtu (14/2).
Optimalkan 91 Juta Hektare Lahan Suboptimum
Sebagian besar lahan suboptimum di Indonesia menghadapi cekaman abiotik seperti pH tanah rendah, salinitas tinggi, defisiensi hara, hingga suhu ekstrem. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu dan produktivitas rendah.
Melalui pendekatan fisiologi tanaman dan analisis genetik, tim peneliti IPB mengidentifikasi mekanisme adaptasi dan sifat toleran yang dapat diwariskan.
Strategi seleksi berbasis karakter unggul ini mempercepat kemajuan genetik untuk menghasilkan varietas yang lebih stabil dan efisien pada kondisi tidak ideal.
Program pemuliaan tersebut berpijak pada tiga pilar utama:
– Ketahanan (resilience)
– Keberlanjutan (sustainability)
– Kemanusiaan (humanity)
Varietas yang dikembangkan harus adaptif, hemat input, serta mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Sorgum: Alternatif Pangan dan Energi Masa Depan
Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan adalah sorgum, tanaman pangan terbesar kelima di dunia dengan kandungan protein sekitar 11 persen—mendekati gandum.
Sorgum memiliki sejumlah keunggulan strategis: Mudah diolah menjadi tepung, Kompetitif secara gizi, Bersifat gluten free, Adaptif di tanah masam dan lahan kering hingga Potensial untuk bioetanol dan biomassa energi.
Dengan kemampuannya beradaptasi di lahan kering masam, lahan beriklim kering, hingga lahan bekas tambang, sorgum membuka peluang peningkatan produktivitas tanpa ketergantungan tinggi pada pupuk dan kapur.
Gandum Tropika: Kurangi Ketergantungan Impor
Ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum yang pada 2024 mencapai 12,7 juta ton menjadi tantangan besar.
Untuk itu, IPB bersama Konsorsium Penelitian Gandum mengembangkan gandum tropika melalui pendekatan fisiologi, genetik, dan metode shuttle breeding.
Dua varietas telah dilepas, yakni: Guri-7-Agritan dan Guri-8-Agritan.
Keduanya adaptif di dataran menengah tropika dan dirancang untuk pengembangan pada ketinggian 400–600 mdpl—wilayah yang lebih luas dibanding dataran tinggi konvensional.
Dari sisi kualitas, gandum hasil pemuliaan peneliti Indonesia dinilai layak diolah menjadi pangan bergizi. Meski produksinya belum mencukupi kebutuhan industri skala besar, inovasi ini menjadi fondasi penting menuju kemandirian.
Swasembada Pangan Dimulai dari Lahan Bercekaman
Agenda swasembada pangan nasional tak bisa dilepaskan dari perluasan produksi di lahan suboptimum. Ketersediaan varietas adaptif menjadi kunci untuk menjaga stabilitas hasil di tengah perubahan iklim dan tekanan global.
Pengembangan sorgum dan gandum tropika tidak lagi hanya menjadi inovasi akademik, melainkan strategi jangka panjang untuk mengubah peta pangan Indonesia—dari ketergantungan impor menuju kedaulatan berbasis riset dan kekuatan sumber daya dalam negeri. (TR Network)


Komentar