JAKARTA – Kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim ternyata jauh lebih serius dari yang diperkirakan sebelumnya.
Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi Nature mengungkap bahwa banyak penelitian selama ini meremehkan ketinggian dasar wilayah pesisir, sehingga risiko yang dihadapi jutaan manusia di kawasan pantai kemungkinan jauh lebih besar.
Dilansir dari Phys.org, Kamis (5/3/2026), penelitian tersebut menganalisis ratusan studi ilmiah serta berbagai model penilaian risiko pesisir. Hasilnya menunjukkan sekitar 90 persen penelitian sebelumnya ternyata meremehkan ketinggian dasar pesisir hingga rata-rata 30 sentimeter.
Kesalahan perhitungan ini paling sering terjadi di kawasan Global South, termasuk negara-negara berkembang di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik. Sebaliknya, ketidaksesuaian pengukuran relatif lebih jarang ditemukan di Eropa dan sepanjang pesisir Atlantik.
Ketidaksesuaian Cara Mengukur Laut dan Daratan
Menurut Philip Minderhoud, profesor hidrologi dari Wageningen University & Research, masalah utama berasal dari perbedaan metode pengukuran antara permukaan laut dan daratan.
Setiap metode sebenarnya mampu mengukur wilayahnya secara akurat. Namun, pada titik kritis tempat laut bertemu daratan—yakni wilayah pesisir—banyak faktor yang kerap terabaikan ketika data satelit dan model berbasis daratan digabungkan.
Penulis utama penelitian, Katharina Seeger dari University of Padua, menjelaskan bahwa banyak studi menggunakan nol meter sebagai titik awal ketinggian permukaan laut.
Padahal di sejumlah wilayah Indo-Pasifik, ketinggian laut sebenarnya dapat mendekati satu meter lebih tinggi dari asumsi tersebut.
Untuk memudahkan pemahaman, banyak penelitian sebelumnya mengasumsikan permukaan laut berada dalam kondisi tenang tanpa gelombang atau arus. Kenyataannya, wilayah pesisir selalu dipengaruhi berbagai dinamika alam seperti angin, pasang surut, arus laut, perubahan suhu, hingga fenomena iklim seperti El Niño.
Risiko Jauh Lebih Besar
Dengan metode perhitungan yang lebih akurat, dampak kenaikan permukaan laut diperkirakan jauh lebih luas dari prediksi sebelumnya.
Para peneliti memperkirakan bahwa jika permukaan laut naik 1 meter pada akhir abad ini, luas daratan yang terendam bisa bertambah hingga 37 persen dibandingkan estimasi sebelumnya.
Akibatnya, sekitar 77 juta hingga 132 juta orang tambahan berpotensi terdampak banjir pesisir dan tenggelamnya wilayah daratan.
Kawasan Asia Tenggara disebut sebagai salah satu wilayah dengan jumlah penduduk terbesar yang berada di zona risiko tersebut.
Advokat iklim dari organisasi Save the Children di Vanuatu, Thompson Natuoivi, menegaskan bahwa ancaman ini tidak lagi dipandang sebagai persoalan masa depan.
“Kenaikan permukaan laut tidak hanya mengubah garis pantai, tetapi juga mengubah kehidupan manusia secara menyeluruh. Kita tidak berbicara tentang masa depan—kita membicarakan sesuatu yang sudah terjadi sekarang,” ujarnya.
Masih Menuai Perdebatan
Meski begitu, tidak semua ilmuwan sepakat dengan kesimpulan studi ini.
Peneliti dari Bureau de Recherches Géologiques et Minières, Gonéri Le Cozannet, menilai temuan tersebut mungkin sedikit melebih-lebihkan dampaknya.
Menurutnya, sebagian besar pemerintah di dunia sebenarnya sudah memahami risiko di wilayah pesisir mereka dan telah merencanakan langkah mitigasi.
Namun satu hal yang tidak terbantahkan: dengan suhu bumi yang terus meningkat akibat krisis iklim, permukaan laut terus naik—dan kota-kota pesisir di seluruh dunia kini berada di garis depan ancaman tersebut. (TR Network)


Komentar