Iklim
Beranda / Iklim / Gejolak Pangan Global 2026: Iklim Ekstrem Picu Krisis Pangan di 41 Negara

Gejolak Pangan Global 2026: Iklim Ekstrem Picu Krisis Pangan di 41 Negara

Gagal panen petani gandum di Eropa. Arsip FAO

ROMA – Krisis pangan global mulai menunjukkan tanda-tanda baru yang mengkhawatirkan.

Laporan terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan bahwa iklim ekstrem menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kerawanan pangan, dengan 41 negara kini membutuhkan bantuan pangan eksternal.

Pada saat yang sama, harga pangan dunia kembali naik setelah lima bulan berturut-turut mengalami penurunan. Kenaikan ini tercermin dalam FAO Food Price Index, indikator utama yang memantau pergerakan harga komoditas pangan global.

Pada Februari 2026, indeks tersebut mencapai 125,3 poin, naik 0,9 persen dibanding Januari, meski masih 1 persen lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan harga gandum, minyak nabati, dan beberapa jenis daging menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan indeks, menutupi penurunan harga gula dan produk susu.

Gawat! Gelombang Panas Ekstrem dan Krisis Energi Ancam Asia Tenggara

Iklim Ekstrem Perburuk Risiko Krisis Pangan

FAO menegaskan bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem kini semakin mengganggu sistem produksi pangan global.

Fenomena seperti kekeringan berkepanjangan, curah hujan tidak menentu, banjir, hingga suhu ekstrem telah merusak panen di berbagai wilayah dunia.

Di banyak negara rentan, guncangan iklim ini terjadi bersamaan dengan konflik dan ketidakstabilan ekonomi, sehingga memperparah krisis pangan.

FAO memperkirakan 41 negara saat ini membutuhkan bantuan pangan internasional, sebagian besar berada di kawasan Afrika, di mana sistem pertanian sangat sensitif terhadap perubahan iklim dan gangguan keamanan.

Di antara 44 negara berpendapatan rendah dengan defisit pangan, produksi serealia diperkirakan turun sekitar 1 persen pada musim 2025/2026, sementara konsumsi meningkat 1,5 persen.

Sistem Peringkat ESG Korporasi di Indonesia Segera Diluncurkan

Akibatnya, kebutuhan impor serealia diperkirakan meningkat menjadi 55,7 juta ton, menambah tekanan bagi negara-negara dengan ekonomi rapuh.

Harga Gandum Naik karena Gangguan Cuaca

Dampak iklim juga mulai terlihat pada pasar komoditas pangan dunia.

Indeks Harga Serealia FAO naik 1,1 persen pada Februari, terutama karena kenaikan harga gandum global.

Lonjakan harga ini dipicu oleh laporan embun beku di beberapa wilayah Eropa dan Amerika Serikat, serta gangguan logistik di Rusia dan kawasan Laut Hitam, salah satu jalur ekspor gandum terbesar dunia.

Harga jagung internasional juga mengalami kenaikan moderat. Sementara itu, harga beras dunia naik 0,4 persen, didorong permintaan stabil terhadap varietas premium seperti basmati dan Japonica.

Krisis Berlapis Jakarta: Tanah Ambles, Air Tercemar, 40 Persen Wilayah Sudah di Bawah Laut

Minyak Nabati Melonjak ke Level Tertinggi Sejak 2022

Kenaikan paling tajam terjadi pada kelompok minyak nabati.

Indeks Harga Minyak Nabati FAO melonjak 3,3 persen pada Februari, mencapai level tertinggi sejak Juni 2022.

Harga minyak sawit dunia meningkat karena tingginya permintaan impor global serta produksi yang menurun secara musiman di Asia Tenggara.

Harga minyak kedelai juga naik seiring ekspektasi kebijakan biofuel yang lebih agresif di Amerika Serikat.

Sementara itu, harga minyak rapeseed rebound akibat meningkatnya permintaan impor terhadap pasokan Kanada, sedangkan minyak bunga matahari sedikit melemah karena meningkatnya ekspor dari Argentina.

Harga Daging Naik, Gula Turun Tajam

Indeks harga daging FAO naik 0,8 persen dibanding Januari.

Harga daging domba bahkan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, sementara harga daging sapi meningkat karena kuatnya permintaan impor dari China dan Amerika Serikat. Harga daging babi dan unggas juga naik tipis.

Sebaliknya, indeks harga produk susu turun 1,2 persen, terutama akibat turunnya harga keju. Namun harga susu bubuk justru meningkat karena permintaan impor yang menguat dari Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

Penurunan paling tajam terjadi pada komoditas gula. Indeks Harga Gula FAO turun 4,1 persen dibanding Januari dan bahkan 27,3 persen lebih rendah dibanding Februari 2025, karena ekspektasi pasokan global yang melimpah.

Produksi Gandum Dunia Diperkirakan Turun

FAO juga memproyeksikan produksi gandum global pada 2026 kemungkinan turun sekitar 3 persen menjadi 810 juta ton, meskipun masih berada di atas rata-rata lima tahun terakhir.

Penurunan ini diperkirakan terjadi karena berkurangnya luas tanam gandum musim dingin di Uni Eropa, Rusia, dan Amerika Serikat, akibat harga komoditas yang lebih rendah.

Sebaliknya, prospek produksi di India dinilai cukup kuat berkat insentif pemerintah yang mendorong penanaman dalam jumlah besar. Prospek juga positif di Pakistan dan relatif stabil di China.

Produksi Serealia Dunia Rekor, Tapi Risiko Tetap Tinggi

Meski tekanan iklim meningkat, FAO memperkirakan produksi serealia global tahun 2025 mencapai rekor 3,029 miliar ton, naik 5,6 persen dibanding tahun sebelumnya.

Konsumsi serealia dunia pada musim 2025/2026 juga diperkirakan mencapai 2,943 miliar ton, yang menjadi rekor baru.

Stok serealia global diproyeksikan mencapai 940,5 juta ton, dengan rasio stok terhadap penggunaan sebesar 31,9 persen, yang menunjukkan pasokan global secara keseluruhan masih relatif aman.

Namun FAO mengingatkan bahwa volatilitas iklim, konflik geopolitik, serta gangguan rantai pasok dapat dengan cepat mengubah keseimbangan pangan dunia.

Situasi ini menunjukkan paradoks yang semakin nyata: produksi pangan global mencapai rekor, tetapi iklim ekstrem justru mendorong semakin banyak negara menuju krisis pangan. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *