TEHERAN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki fase baru yang lebih berbahaya setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam fasilitas penyimpanan minyak Iran.
Pemerintah Iran menuding serangan tersebut sebagai kejahatan lingkungan yang berpotensi memicu bencana ekologis lintas batas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengecam keras serangan terhadap depot bahan bakar di Teheran dan Provinsi Alborz pada Sabtu malam (7/3).
Ia menyebut serangan terhadap infrastruktur energi itu sebagai kejahatan perang sekaligus ancaman besar bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Menurut Baghaei, kebakaran besar di fasilitas penyimpanan bahan bakar telah melepaskan berbagai senyawa beracun ke atmosfer. Zat-zat berbahaya tersebut berpotensi mencemari udara, tanah, dan air, sekaligus mengancam keselamatan jutaan warga sipil.
“Perang kriminal AS–Israel terhadap bangsa Iran telah memasuki fase baru yang sangat berbahaya. Serangan yang disengaja terhadap infrastruktur energi ini sama saja dengan menciptakan perang kimia terhadap rakyat Iran,” tegas Baghaei melalui platform media sosial X, pada 9 Maret 2026.
Ia memperingatkan bahwa dampak lingkungan dari kebakaran depot minyak tidak akan berhenti di dalam wilayah Iran saja. Polusi udara dan bahan kimia beracun yang terlepas berpotensi menyebar ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.
“Konsekuensi bencana lingkungan dan kemanusiaan ini tidak akan terbatas pada perbatasan Iran,” kata Baghaei, yang juga menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida sekaligus.”
Ancaman Hujan Asam Beracun
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran memperingatkan kemungkinan munculnya hujan asam beracun akibat senyawa kimia yang dilepaskan dari depot minyak yang terbakar.
Jika terjadi presipitasi, campuran partikel kimia dari asap kebakaran dapat jatuh kembali ke permukaan bumi dalam bentuk hujan asam yang berbahaya bagi manusia, tanaman, serta sumber air.
Awan hitam pekat kini menyelimuti sebagian wilayah ibu kota Iran. Asap tebal dilaporkan masih membumbung dari sejumlah fasilitas minyak di kawasan Kohak, Shahran, dan Karaj, yang menjadi target utama serangan jet tempur.
Bulan Sabit Merah Iran bahkan telah mengeluarkan peringatan darurat, meminta warga tetap berada di dalam rumah untuk menghindari paparan zat kimia berbahaya di udara.
Korban Jiwa dan Infrastruktur Hancur
Kantor berita semi-resmi Iran melaporkan bahwa setidaknya enam orang tewas dan 21 lainnya luka-luka dalam serangan terhadap salah satu fasilitas penyimpanan minyak di Provinsi Alborz.
Sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa rudal yang menghantam depot minyak di Shahran memicu ledakan besar yang membakar truk-truk tangki serta infrastruktur sipil di sekitarnya.
Meski Israel mengklaim sasaran serangan adalah penyimpanan bahan bakar militer, warga setempat mengatakan kerusakan meluas hingga fasilitas sipil, meningkatkan risiko pencemaran lingkungan jangka panjang.
Tim pemadam kebakaran masih berjuang memadamkan api, sementara para ahli memperingatkan bahwa kebakaran minyak skala besar dapat memicu kontaminasi tanah, air tanah, dan ekosistem perkotaan.
Eskalasi Konflik yang Memicu Krisis Regional
Serangan ini terjadi di tengah eskalasi besar konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Pada 28 Februari lalu, serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, beberapa anggota keluarganya, komandan militer senior, serta warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Kini, dunia internasional memantau situasi dengan cermat. Selain risiko eskalasi militer, para analis memperingatkan bahwa kerusakan fasilitas energi dan polusi besar akibat perang dapat memicu krisis lingkungan regional, termasuk pencemaran udara lintas negara dan gangguan stabilitas ekonomi global. (TR Network)


Komentar