JAKARTA – Pemerintah Indonesia mulai mengakselerasi pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi konkret menghadapi krisis sampah perkotaan.
Salah satu titik krusial dimulai di Malang Raya, di mana Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, turun langsung meninjau calon lokasi proyek di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Peninjauan ini menjadi langkah awal untuk memastikan kelayakan teknis dan lingkungan, mencakup kapasitas lahan, aksesibilitas, ketersediaan air, hingga konektivitas jaringan listrik.
Pemerintah menegaskan, hanya lokasi dengan standar terbaik yang akan ditetapkan melalui keputusan resmi.
Dengan timbulan sampah mencapai 1.947 ton per hari, Malang Raya menghadapi tekanan serius.
PSEL dirancang untuk mengolah sekitar 1.038 ton per hari, menjadikannya salah satu proyek strategis dalam mengubah beban lingkungan menjadi sumber energi.
Bupati Malang, Sanusi, menyatakan kesiapan daerahnya dan berharap proyek ini menjadikan wilayahnya sebagai pusat energi baru yang berdampak langsung pada pertumbuhan industri.
Instruksi Presiden Percepat PSEL Nasional
Percepatan pembangunan PSEL merupakan implementasi langsung instruksi Presiden Prabowo Subianto melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Adapun PSEL diposisikan sebagai solusi strategis untuk: Mengatasi darurat sampah perkotaan, Mengurangi ketergantungan pada TPA, Menghasilkan energi listrik terbarukan dan Mendorong target nasional 100% pengelolaan sampah pada 2029.
Di Jawa Timur, sinergi lintas daerah dipimpin oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa yang memastikan koordinasi, monitoring, dan pelaksanaan proyek berjalan transparan dan akuntabel.
Selain Malang Raya, proyek besar juga disiapkan di Surabaya Raya dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.100 ton per hari dari total timbulan sampah 3.692 ton.
Semarang Raya dan Target Ambisius Zero Sampah
Percepatan PSEL juga terjadi di Semarang Raya, yang mencakup Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Wilayah ini menghasilkan sekitar 1.627 ton sampah per hari, dengan target pengolahan mencapai 1.100 ton per hari.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan komitmen untuk mencapai zero sampah pada 2029. Konsep yang diusung adalah aglomerasi regional, yang mengintegrasikan pengelolaan lintas wilayah berbasis teknologi tinggi.
Menteri Hanif menekankan bahwa PSEL menjadi solusi utama untuk skala besar, sementara upaya reduksi dan pengelolaan dari hulu tetap berjalan selama masa pembangunan.
Banten Bangun PSEL Raksasa, Kapasitas 4.000 Ton per Hari
Ekspansi PSEL juga menyasar Provinsi Banten dengan skala besar. Dua fasilitas akan dibangun di Jatiwaringin (Kabupaten Tangerang) dan Cilowong (Kota Serang), dengan total kapasitas mencapai 4.000 ton per hari.
Proyek ini didukung pembiayaan dari Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar tiga tahun.
Namun demikian, pemerintah mengingatkan bahwa keberhasilan PSEL tidak hanya bergantung pada teknologi. Pemilahan sampah dari sumber tetap menjadi faktor kunci untuk menekan biaya dan memastikan efisiensi sistem.
Dari Krisis Lingkungan ke Peluang Energi Nasional
Percepatan proyek PSEL di berbagai wilayah menandai perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah Indonesia.
Dari Malang, Surabaya, Semarang hingga Banten, pemerintah mendorong transformasi dari pola lama “kumpul-angkut-buang” menjadi olah dan hasilkan energi.
Dengan kapasitas ribuan ton per hari, PSEL bukan sekadar infrastruktur lingkungan, tetapi juga fondasi baru:
– Energi terbarukan berbasis limbah
– Penguatan ekonomi daerah
– Pengurangan emisi dan beban TPA
Jika berjalan sesuai rencana, Indonesia tengah memasuki era baru di mana sampah bukan lagi masalah—melainkan sumber daya strategis untuk masa depan energi nasional. (TR Network)

Komentar