Riset
Beranda / Riset / Migrasi Purba hingga Rempah Dunia: Asia Tenggara Ternyata Pusat Peradaban

Migrasi Purba hingga Rempah Dunia: Asia Tenggara Ternyata Pusat Peradaban

Tradisi pembuatan kapal di Asia Tenggara telah berkembang sejak abad ke-3 hingga ke-16 khususnya di Indonesia. Arsip

JAKARTA – Asia Tenggara kini tak lagi bisa dipandang sebagai wilayah pinggiran dalam sejarah dunia.

Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru mengungkap fakta besar: kawasan ini merupakan pusat peradaban yang menghubungkan migrasi manusia purba hingga jaringan perdagangan global berbasis rempah-rempah.

Temuan tersebut dipaparkan dalam webinar internasional bertajuk “Connecting Continents and Oceans” yang diselenggarakan Pusat Riset Arkeometri BRIN, Senin (30/03). Forum ini mempertemukan ilmuwan lintas negara untuk mengurai keterhubungan manusia, budaya, dan teknologi sejak prasejarah hingga era klasik.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Heri Yogaswara, menegaskan bahwa arkeologi kini memainkan peran strategis dalam memahami dinamika global.

“Arkeologi tidak hanya merekonstruksi masa lalu, tetapi juga menjelaskan bagaimana mobilitas manusia dan pertukaran budaya membentuk dunia modern,” ujarnya.

Indonesia Jadi Barometer: FAO Uji Model Peternakan Rendah Emisi Pertama di Dunia

Jejak Migrasi Purba: Asia Tenggara dalam Peta Evolusi Manusia

Salah satu temuan penting disampaikan Prof. Tamás Hajdu yang menyoroti tantangan studi bioantropologi, khususnya pada praktik kremasi yang merusak DNA. Untuk mengatasinya, ilmuwan menggunakan isotop strontium guna melacak asal-usul manusia purba.

Penelitian pada Zaman Perunggu di Hungaria (±2600–800 SM) menunjukkan adanya migrasi besar dan percampuran populasi sekitar 1500 SM. Temuan ini memperkuat bukti bahwa mobilitas manusia lintas wilayah telah terjadi sejak masa sangat awal.

Dari Indonesia, Prof. Harry Widianto mengungkap temuan Homo erectus di situs Bumiayu, Jawa. Penemuan ini menunjukkan keberadaan manusia purba sekitar 1,8 juta tahun lalu—lebih tua dari perkiraan sebelumnya—dan menegaskan posisi Jawa sebagai salah satu pusat penting evolusi manusia di Asia.

Teknologi Kapal dan Lahirnya Konektivitas Global

Peneliti Agni Sesaria Mochtar menyoroti pentingnya teknologi kapal dalam membangun jaringan maritim Asia Tenggara. Kajian terhadap kapal tipe lashed-lug dari sekitar 40 situs menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya berada di Indonesia.

Teknologi ini memungkinkan pelayaran jarak jauh hingga Samudra Hindia, menjadikan kawasan ini sebagai penghubung vital antarperadaban dunia.

Kemarau 2026 Jadi Berkah di Laut, Nelayan Berpotensi Panen Ikan Besar-Besaran

Bérénice Bellina menambahkan bahwa jaringan maritim kuno telah menghubungkan Vietnam dan Indonesia Barat sejak masa prasejarah. Persebaran artefak seperti drum perunggu Dong Son hingga Sumatra menjadi bukti integrasi budaya dan perdagangan regional yang berkelanjutan, bahkan hingga masa Sriwijaya.

Barus hingga Bongal: Awal Globalisasi Rempah Nusantara

Penelitian Ery Soedewo mengungkap peran penting situs Barus dan Bongal sebagai simpul awal perdagangan global. Dari wilayah ini, komoditas unggulan Nusantara seperti resin dan rempah-rempah didistribusikan ke berbagai belahan dunia pada abad ke-7 hingga ke-11 Masehi.

Analisis kimia terhadap artefak kaca dan koin menunjukkan adanya pengaruh teknologi Mediterania, meskipun sebagian diproduksi secara lokal. Ini menandakan adanya interaksi budaya luas melalui jaringan perdagangan yang kompleks.

Sementara itu, Krisztina Hoppál menegaskan bahwa tradisi pembuatan kapal di Asia Tenggara telah berkembang sejak abad ke-3 hingga ke-16, dengan pengetahuan lokal sebagai fondasi penting dalam rekonstruksi sejarah maritim.

Asia Tenggara: Dari Jalur Migrasi hingga Pusat Peradaban Dunia

Secara keseluruhan, riset BRIN menegaskan bahwa Asia Tenggara—terutama Indonesia—memegang peran sentral dalam sejarah dunia. Kawasan ini menjadi titik temu migrasi manusia, pusat inovasi teknologi maritim, sekaligus penggerak jaringan perdagangan global berbasis rempah.

Danau-Danau Suci di Bali Terancam oleh Ekspansi Pariwisata dan Pertanian

Keterhubungan antarwilayah telah terbangun sejak ribuan tahun lalu melalui mobilitas manusia, kecanggihan teknologi, dan interaksi budaya yang kompleks.

Kolaborasi lintas disiplin—arkeologi, antropologi, etnografi, hingga ikonografi—menjadi kunci dalam mengungkap sejarah besar ini secara utuh.

Kesimpulannya, Asia Tenggara tidak hanya bagian dari sejarah dunia—melainkan pusat peradaban yang membentuknya. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *