News
Beranda / News / Krisis DAS di Indonesia: Solusi Regeneratif Jadi Harapan Baru

Krisis DAS di Indonesia: Solusi Regeneratif Jadi Harapan Baru

Potret Daerah Aliran Sungai (DAS) Bekasi, Jawa Barat yang telah mengalami pendangkalan. Arsip

JAKARTA – Krisis daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Dari hulu yang rusak hingga hilir yang rawan banjir, tekanan perubahan iklim dan aktivitas manusia telah mendorong degradasi ekosistem secara masif.

Di tengah situasi darurat ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan harapan baru melalui pendekatan regeneratif berbasis riset.

Harapan itu disampaikan dalam Orasi Pengukuhan Profesor Riset Hunggul Yudono Setio Hadinugroho bertajuk Transformasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Menuju Lanskap Regeneratif di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Hunggul, peneliti ahli utama Pusat Riset Ekologi dengan kepakaran pengelolaan DAS dan geoinformatika, menegaskan bahwa DAS tidak hanya berupa bentang alam, melainkan sistem kompleks yang menghubungkan aspek biofisik, sosial, dan ekonomi.

Namun, kerusakan yang terjadi saat ini telah memicu berbagai bencana, mulai dari meningkatnya lahan kritis, erosi, hingga banjir dan kekeringan.

Hutan Indonesia Terus Dijarah, Deforestasi Naik Tajam

Menurutnya, pendekatan lama yang hanya berfokus pada konservasi tidak lagi cukup. Ia menawarkan paradigma baru melalui pendekatan “regeneratif”, yakni pengelolaan DAS yang tidak hanya mempertahankan kondisi, tetapi memulihkan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

“Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, dengan dukungan teknologi dan kebijakan adaptif,” ujarnya.

Dari Lahan Kritis ke Sumber Kesejahteraan

Riset Hunggul terbukti tidak berhenti di tataran konsep. Pada tingkat tapak atau mikro DAS, berbagai inovasi telah menunjukkan dampak nyata.

Di lahan hortikultura, teknik konservasi tanah dan air mampu menekan erosi hingga puluhan ton per hektare per tahun, sekaligus menghemat biaya produksi petani.

Pendekatan vegetatif melalui penanaman tanaman bernilai ekonomi juga terbukti efektif mengurangi degradasi lahan, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat ketahanan pangan lokal.

Darurat Pesisir Indonesia: Rob, Abrasi, dan Amblesan Tanah Kian Tak Terkendali

Sementara itu, sistem agroforestri dan pengelolaan lahan kering yang dikembangkan mampu menurunkan erosi hingga 55%, meningkatkan infiltrasi air, serta menyediakan pakan ternak dan sumber energi alternatif.

Temuan ini menegaskan bahwa konservasi dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Energi Bersih dari Sungai, Insentif Jaga Alam

Transformasi DAS juga mencakup sektor energi melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Teknologi ini memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi bersih bagi masyarakat pedesaan.

Selain menyediakan listrik, PLTMH juga mendorong aktivitas ekonomi lokal dan menjadi insentif bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan dan sumber air.

Model ini telah diterapkan di berbagai wilayah dan dinilai sebagai inovasi yang prospektif.

Hutan Desa Dikuasai Toke: Aturan Negara Kalah oleh Realitas Lapangan

Teknologi dan Partisipasi Jadi Kunci

Hunggul juga mengembangkan berbagai inovasi berbasis teknologi dan partisipasi masyarakat. ATHUS (Alat Takar Hujan Sederhana) melibatkan siswa dan guru dalam pengumpulan data iklim, sementara ModATHUS menghadirkan sistem peringatan dini banjir dan longsor berbasis sensor.

Selain itu, platform pemantauan kualitas lingkungan berbasis web dan aplikasi memungkinkan data dikumpulkan secara real-time.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan akurasi, tetapi juga membangun literasi kebencanaan di masyarakat.

Kolaborasi Jadi Penentu Keberhasilan

Menurut Hunggul, keberhasilan transformasi DAS sangat bergantung pada integrasi kebijakan dan kolaborasi multipihak. Skema seperti Payment for Ecosystem Services (PES), citizen science, serta kolaborasi quadruple helix antara akademisi, pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci utama.

“Riset harus hadir sebagai solusi yang implementatif dan kontekstual,” tegasnya.

Menutup orasinya, Hunggul menekankan bahwa transformasi DAS bukan sekadar upaya teknis, tetapi perubahan cara pandang dalam mengelola lingkungan.

Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, kearifan lokal, dan partisipasi masyarakat, DAS dapat menjadi fondasi bagi ketahanan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.

Riset ini menegaskan satu hal: di tengah krisis DAS yang kian dalam, solusi nyata sudah ada—dan masa depan lingkungan Indonesia sangat ditentukan dari bagaimana menjaga hulu hingga hilir. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *