Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Tanpa Inovasi, Budidaya Ikan Indonesia Bisa Kalah dari Negara Tetangga

Tanpa Inovasi, Budidaya Ikan Indonesia Bisa Kalah dari Negara Tetangga

Budidaya Ikan dengan sistem Akuakultur. Arsip

JAKARTA – Lonjakan konsumsi ikan di Indonesia membuka peluang besar sekaligus ancaman serius.

Di tengah permintaan yang terus meningkat, sektor budidaya ikan nasional justru menghadapi berbagai tantangan mendasar. Tanpa inovasi dan percepatan adopsi teknologi, Indonesia berisiko tertinggal dari negara-negara tetangga dalam industri akuakultur global.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa transformasi menuju budidaya ikan berbasis teknologi presisi menjadi langkah krusial untuk menjaga daya saing sekaligus memenuhi kebutuhan protein masyarakat.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional Aquatalk #5 bertajuk “Inovasi dan Hilirisasi Teknologi Budidaya Ikan Air Tawar Presisi Menuju Industri Perikanan yang Tangguh dan Berkelanjutan”, yang mempertemukan peneliti, pelaku industri, dan praktisi dalam satu forum strategis.

Konsumsi Naik, Tekanan Produksi Menguat

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengungkapkan bahwa konsumsi ikan nasional terus meningkat dalam dua dekade terakhir.

Indonesia Berambisi Dominasi Pasar Buah Tropis Global

“Sejak 2003 hingga kini, konsumsi ikan masyarakat Indonesia telah mencapai sekitar 57 kilogram per kapita per tahun. Ini menjadi indikator positif dalam memperkuat ketahanan pangan dan gizi,” ujarnya dikutip Kamis (2/4/2026).

Di sisi lain, sektor perikanan juga mencatat performa ekspor yang kuat.

Pada 2025, nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai sekitar 6,7 miliar dolar AS, meningkat 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, sektor budidaya masih menghadapi persoalan klasik: keterbatasan lahan, fluktuasi kualitas air, efisiensi pakan yang rendah, serta ancaman penyakit.

Teknologi Presisi Jadi Penentu

BRIN menilai bahwa masa depan akuakultur Indonesia sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Budidaya presisi memungkinkan pengelolaan kolam yang lebih efisien, akurat, dan berkelanjutan.

Ekonomi Hijau China Tumbuh Pesat: Emisi Dipangkas, Industri Melejit

Pemanfaatan sensor kualitas air, Internet of Things (IoT), hingga sistem analitik berbasis data real-time memungkinkan pembudidaya: memantau kondisi kolam secara akurat, mengoptimalkan penggunaan pakan, mendeteksi penyakit lebih dini hingga menekan risiko kerugian produksi.

Pendekatan ini juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi bagi pembudidaya skala kecil dan menengah.

Hilirisasi Riset Jadi Kunci

Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Fahrurrozi, menegaskan bahwa riset harus memberikan dampak nyata.

“Tidak hanya publikasi ilmiah, tetapi juga paten dan lisensi yang bisa dimanfaatkan industri,” ujarnya.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Fauzan Ali, mengungkapkan dua inovasi yang telah dipatenkan yakni Teknologi kubah kolam ikan, untuk menstabilkan suhu air dan Recirculating Aquaculture System (RAS), untuk efisiensi penggunaan air

Pasar Karbon Indonesia Tersendat, Kehutanan Gagal Jadi Motor Utama

Kubah kolam membantu mengurangi stres ikan akibat fluktuasi suhu, sementara RAS memungkinkan penggunaan air secara berulang melalui sistem filtrasi berlapis.

Potensi Besar, Tantangan Nyata

Komoditas bernilai tinggi seperti sidat juga memiliki peluang ekspor besar. Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan benih hingga tingginya biaya pakan yang masih bergantung pada impor.

Selain itu, regulasi perdagangan internasional yang ketat turut menjadi tantangan bagi pelaku usaha.

Era Akuakultur Digital

Pendekatan akuakultur presisi yang mengintegrasikan sensor, kecerdasan buatan (AI), dan analisis data mulai menjadi standar baru dalam industri perikanan global.

Teknologi ini memungkinkan pengelolaan produksi secara real-time dan berbasis data, sehingga meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Kolaborasi Menentukan Masa Depan

Melalui forum Aquatalk, BRIN menekankan pentingnya kolaborasi antara peneliti, industri, pemerintah, dan pelaku usaha untuk mempercepat adopsi teknologi.

Tanpa sinergi yang kuat, inovasi berisiko berhenti di laboratorium. Namun dengan kolaborasi yang tepat, sektor budidaya ikan air tawar Indonesia berpeluang besar menjadi tulang punggung ketahanan pangan sekaligus pemain penting di pasar global. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *