BANDUNG – Gempa bumi magnitudo 7,6 yang mengguncang Sulawesi Utara pada 2 April 2026 tidak hanya memicu ratusan gempa susulan, tetapi juga menyebabkan tsunami kecil setinggi 20–75 cm.
Fenomena ini dipicu oleh kombinasi faktor geologi kompleks, terutama zona penunjaman ganda yang aktif di wilayah tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menegaskan bahwa gempa ini berasal dari aktivitas subduksi dengan mekanisme sesar naik.
“Mekanisme sesar naik tersebut telah menghasilkan deformasi lantai samudera dan memicu terjadinya tsunami yang terekam di beberapa stasiun pencatat pasang surut milik Badan Informasi Geospasial (BIG) setinggi 20–75 cm,” ujar Lana di Bandung, Minggu (5/4/2026).
Zona Penunjaman Ganda: Sumber Energi Besar
Menurut Badan Geologi, wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara berada di kawasan pertemuan dua sistem penunjaman lempeng aktif. Kondisi ini menyebabkan akumulasi tekanan tektonik sangat besar.
Saat energi dilepaskan: Terjadi gempa kuat, Dasar laut terangkat, Air laut terdorong membentuk tsunami.
Sesar Naik Picu Deformasi Dasar Laut
Lana menjelaskan, karakter gempa ini didominasi oleh sesar naik berarah barat daya–timur laut yang mencerminkan arah penunjaman lempeng dengan kemiringan ke tenggara.
Pergerakan ini menyebabkan: Deformasi lantai samudera, Pergeseran kolom air laut, hingga Terbentuknya gelombang tsunami.
Tanah Lunak Perparah Dampak
Berdasarkan laporan lapangan, kerusakan di sejumlah wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara banyak terjadi di area dengan kondisi: Tanah lunak dan Batuan belum kompak.
Hal ini meningkatkan potensi bahaya ikutan seperti: Retakan permukaan tanah, Likuefaksi hingga Gerakan tanah.
921 Gempa Susulan, Aktivitas Belum Reda
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 921 gempa susulan sejak gempa utama terjadi. Jumlah ini menunjukkan aktivitas seismik masih tinggi dan belum mencapai keseimbangan.
Diperkirakan, proses ini akan berlangsung lebih dari satu pekan.
Tiga Tim Tanggap Darurat Diterjunkan
Sebagai bentuk respons cepat, Badan Geologi telah mengirim tiga tim tanggap darurat ke wilayah terdampak.
Tim pertama sudah tiba di Manado dan langsung melakukan: Penyelidikan karakteristik gempa, Pemetaan zona rawan, Pemantauan intensif hingga Penyusunan rekomendasi teknis mitigasi.
“Sebagai wujud tanggung jawab pelayanan teknis mitigasi bencana geologi secara cepat dan tepat, tim telah diberangkatkan ke lokasi dan akan disusul tim berikutnya pada 6 dan 8 April,” kata Lana.
Sebagai catatan, Gempa Sulawesi Utara memicu tsunami karena kombinasi faktor: Terjadi di bawah laut, Memiliki mekanisme sesar naik, Berada di zona penunjaman ganda dan Menyebabkan deformasi dasar laut.
Dengan kata lain, kekuatan gempa saja tidak cukup—struktur geologi dan mekanisme pergerakan lempeng menjadi penentu utama munculnya tsunami. (TR Network)

Komentar