ESG
Beranda / ESG / Asia Pasifik Dominasi Pertumbuhan Keuangan Hijau Global

Asia Pasifik Dominasi Pertumbuhan Keuangan Hijau Global

Investasi Hijau. Ilustrasi

JAKARTA – Di tengah ketidakpastian politik dan gejolak ekonomi global, Asia Pasifik justru tampil sebagai kekuatan baru yang mendominasi arah keuangan berkelanjutan dunia.

Laporan terbaru dari ING mengungkap, kawasan ini bukan hanya bertahan—tetapi melesat jauh meninggalkan wilayah lain yang mulai kehilangan momentum.

Dikutip dari Eco-Business, Selasa (7/4/2026), ING menegaskan bahwa Asia Pasifik kini menjadi motor utama pertumbuhan keuangan hijau global.

Pada 2025, lonjakan signifikan terjadi pada instrumen seperti obligasi hijau (green bonds) dan pinjaman hijau (green loans), menandakan pergeseran besar dalam lanskap pembiayaan dunia.

Di saat pasar global cenderung fluktuatif, kawasan ini justru mencatatkan rekor tertinggi volume keuangan berkelanjutan, didorong oleh derasnya transaksi korporasi dan lembaga keuangan.

243 Perusahaan di Indonesia Sabet PROPER Hijau, Berikut Daftarnya

Sementara itu, peran pemerintah, lembaga supranasional, dan sovereign wealth funds justru mengalami penurunan.

“Pada 2026, kami melihat potensi pertumbuhan yang lebih besar dari Asia Pasifik, termasuk kebangkitan obligasi transisi seiring berkembangnya kebijakan di kawasan ini,” ujar Martijn Hoogerwerf, Head of Sustainable Solutions Group ING Asia Pasifik.

Fenomena ini menegaskan perubahan arah strategi pembiayaan global. Klien di Asia Pasifik kini lebih pragmatis—mereka memilih solusi pembiayaan hijau yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga realistis secara bisnis.

Anand Sachdev, Country Manager ING Singapura, menyebut tren ini sebagai refleksi kebutuhan nyata di sektor energi, infrastruktur, hingga digitalisasi.

“Permintaan terhadap pembiayaan transisi yang kredibel terus meningkat, dan ini menjadi kunci percepatan dekarbonisasi di kawasan,” ujarnya.

Standar Baru GRI: Korporasi Tak Bisa Lagi Sembunyikan Jejak Polusi

Secara global, total penerbitan instrumen keuangan berkelanjutan pada 2025 mencapai USD1,557 triliun—turun 6,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, ING memproyeksikan rebound pada 2026 hingga menyentuh USD1,621 triliun.

Menariknya, meski kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) masih menjadi kontributor terbesar, fondasi pertumbuhannya mulai rapuh.

Aktivitas korporasi di wilayah tersebut menurun tajam, sebagian karena perusahaan beralih ke utang konvensional yang lebih fleksibel dan minim aturan ESG.

Sebaliknya, Asia Pasifik justru melaju kencang dengan fondasi kebutuhan riil dan kebijakan yang semakin matang.

Bahkan, awal 2026 sudah menunjukkan sinyal kuat dengan aliran dana mencapai USD257 miliar  hanya dalam dua bulan pertama, sebelum sempat melambat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Indonesia Berambisi Dominasi Pasar Buah Tropis Global

Di tengah pergeseran ini, satu hal menjadi jelas: pusat gravitasi keuangan berkelanjutan dunia sedang berpindah—dan Asia Pasifik kini berada di garis depan revolusi hijau global. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *