JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat transformasi Kota Tua Jakarta menuju kawasan rendah hingga bebas emisi, dengan MRT Jakarta sebagai tulang punggung sistem mobilitas terintegrasi.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa pengembangan transportasi berbasis rel menjadi kunci dalam menekan emisi sekaligus meningkatkan aksesibilitas kawasan bersejarah tersebut.
Konektivitas MRT yang ditargetkan mencapai Kota Tua pada 2029 diharapkan mendorong pergeseran dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
“Transportasi publik rendah emisi menjadi fondasi utama. MRT akan berperan besar dalam mengurangi beban lalu lintas sekaligus emisi di kawasan ini,” ujarnya dikutip Sabtu (11/4/2026).
Selain MRT, Pemprov DKI juga mempercepat elektrifikasi jalur kereta eksisting di wilayah utara Jakarta, termasuk koneksi menuju Tanjung Priok dan Jakarta International Stadium.
Proyek ini memanfaatkan jalur lama yang dikonversi menjadi kereta listrik, sehingga lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Tahap awal mencakup jalur sepanjang 16 kilometer dan akan diperluas hingga 28 kilometer. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi pengurangan emisi sektor transportasi yang selama ini menjadi kontributor utama polusi udara di Jakarta.
Pemprov juga membuka opsi pengembangan moda transportasi rendah emisi lain, seperti trem di kawasan Kota Tua, yang akan terintegrasi dengan jaringan MRT dan sistem transportasi publik lainnya.
Di sisi lain, pelestarian kawasan cagar budaya tetap menjadi prioritas, termasuk Pasar Baru Jakarta dan Glodok.
Revitalisasi dilakukan dengan pendekatan berkelanjutan agar aktivitas ekonomi, pariwisata, dan budaya dapat berjalan tanpa meningkatkan tekanan lingkungan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut pengembangan Kota Tua diarahkan pada empat pilar utama: edukasi, ekonomi kreatif, budaya dan pariwisata, serta kawasan berbasis transportasi terintegrasi.
“Konsep ini memastikan pembangunan tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Tahap awal revitalisasi difokuskan pada zona inti seperti Museum Bahari Jakarta dan Alun-Alun Fatahillah, termasuk penataan parkir dan pedagang kaki lima guna menciptakan kawasan yang tertib, nyaman, dan minim emisi.
Dengan strategi ini, Kota Tua diproyeksikan berkembang sebagai kawasan wisata berkelanjutan yang terintegrasi, sekaligus menjadi model pengembangan kota rendah emisi di Indonesia menjelang 500 tahun Jakarta pada 2027. (TR Network)

Komentar