JAKARTA – Komitmen besar digelontorkan untuk mempercepat transformasi ekonomi hijau Indonesia.
Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) mengalokasikan pembiayaan senilai USD2,55 miliar atau sekitar Rp42,96 triliun hingga 2025, dengan fokus utama mempercepat transisi energi berkelanjutan dan reformasi struktural nasional.
Country Director ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, mengungkapkan bahwa pada tahun sebelumnya ADB telah mengucurkan USD2,4 miliar dalam bentuk pinjaman kedaulatan.
Dana ini diarahkan untuk mendukung reformasi kebijakan, mendorong perdagangan, meningkatkan produktivitas nasional, serta memperkuat sektor kesehatan dan pendidikan.
Namun yang paling strategis: mendorong percepatan transisi energi bersih Indonesia di tengah tekanan krisis iklim global dan tuntutan dekarbonisasi.
“Kami selaras dengan visi pemerintah – melampaui pembiayaan untuk memberikan pengetahuan, saran kebijakan, dan kemitraan berkelanjutan menuju Visi Indonesia Emas 2045,” ujar Alimov, Kamis (26/2/2026).
Transisi Energi Jadi Prioritas Utama
Pendanaan ADB tidak hanya menyasar pembangunan konvensional, tetapi juga diarahkan pada: Percepatan energi terbarukan, Reformasi tata kelola sektor energi, Penguatan keamanan air, Konservasi ekosistem laut hingga Pendalaman sektor keuangan hijau.
Selain pinjaman kedaulatan, ADB juga menyalurkan USD150 juta pembiayaan non-kedaulatan untuk mendorong peran sektor swasta dalam proyek-proyek strategis, termasuk investasi energi bersih.
Untuk tahun ini saja, total alokasi pendanaan ADB bagi Indonesia mencapai USD2,7 miliar, menunjukkan eskalasi dukungan terhadap agenda pembangunan rendah karbon.
Dari Infrastruktur ke Dekarbonisasi
Sejak bermitra dengan Indonesia pada 1966, ADB telah terlibat dalam berbagai fase pembangunan nasional — mulai dari pertanian pada 1970-an, infrastruktur transportasi dan energi pada 1980-an, hingga reformasi struktural 1990-an.
Kini, fokusnya bergeser pada: Infrastruktur berkelanjutan, Peningkatan daya saing SDM, Transformasi energi hijau hingga Dukungan terhadap agenda Asta Cita.
Sebagai anggota pendiri dan pemegang saham terbesar keenam di ADB, Indonesia menjadi mitra strategis dalam implementasi Strategi Kemitraan Negara ADB 2025–2029.
Alimov menegaskan bahwa ADB tidak hanya menawarkan pendanaan, tetapi juga: Transfer pengetahuan teknis, Dukungan kebijakan reformasi, Solusi jangka panjang berbasis keberlanjutan.
“Sejarah panjang kami mencerminkan pemahaman lokal yang mendalam dan komitmen bersama untuk kemajuan Indonesia,” tegasnya.
Dengan suntikan dana jumbo ini, Indonesia dihadapkan pada momentum krusial: mempercepat transisi energi dari ketergantungan fosil menuju energi bersih, sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kompetitif di tengah perubahan iklim dan dinamika global.
Transisi energi bukan lagi pilihan — melainkan keniscayaan. Dan kini, pendanaannya sudah disiapkan. (TR Network)
