Riset
Beranda / Riset / Ambisi Nuklir ASEAN: Indonesia–Thailand Kolaborasi Bangun Teknologi Cyclotron

Ambisi Nuklir ASEAN: Indonesia–Thailand Kolaborasi Bangun Teknologi Cyclotron

Fasilitas riset teknologi cyclotron—mesin kunci untuk produksi radioisotop yang vital bagi dunia medis dan industri. Foto Arsip

JAKARTA – Ambisi menjadikan Asia Tenggara sebagai kekuatan baru di bidang teknologi nuklir mulai menunjukkan arah serius.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menggandeng Thailand Institute of Nuclear Technology (TINT) dalam kolaborasi strategis pengembangan teknologi cyclotron—mesin kunci untuk produksi radioisotop yang vital bagi dunia medis dan industri.

Kesepakatan yang diteken di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (31/3/2026), tersimpan agenda besar: mempercepat kemandirian teknologi nuklir kawasan sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor radioisotop.

Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan prototipe 13 MeV DECY Cyclotron beserta beam line-nya. Teknologi ini menjadi tulang punggung produksi radioisotop yang digunakan dalam diagnosis dan terapi medis, termasuk untuk penanganan kanker.

Deputi Bidang SDM IPTEK BRIN, Edy Giri Rachman Putra, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan momentum penting untuk melompat dari sekadar kerja sama formal menuju implementasi nyata.

Hutan Indonesia Terus Dijarah, Deforestasi Naik Tajam

“Kami tidak ingin berhenti di MoU. Ini harus menjadi langkah konkret memperkuat teknologi nuklir dan akselerator di kawasan Asia,” tegasnya.

Lebih jauh, BRIN membuka pintu kolaborasi yang lebih luas melalui pertukaran mahasiswa, peneliti, hingga penguatan platform riset regional. Strategi ini dinilai krusial untuk menciptakan ekosistem inovasi yang saling terhubung di ASEAN.

Di sisi lain, Executive Director TINT, Thawatchai Onjun, melihat kerja sama ini sebagai titik awal integrasi riset nuklir di Asia Tenggara.

Menurutnya, kesamaan kapasitas dan fokus riset antara Indonesia dan Thailand menjadi fondasi kuat untuk menghindari duplikasi riset sekaligus mempercepat inovasi.

“Kita punya banyak kesamaan—dari infrastruktur hingga SDM. Ini peluang besar untuk saling mengisi dan memperkuat,” ujarnya.

Singapura Diam-diam Serius Garap Nuklir

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bahri, menekankan bahwa kerja sama ini akan diarahkan lebih konkret melalui skema joint research, terutama di bidang teknologi akselerator dan bahkan fusi nuklir.

BRIN juga membuka akses luas bagi ilmuwan dan mahasiswa Thailand untuk terlibat langsung dalam riset di Indonesia. Ini menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi tidak lagi bersifat simbolik, tetapi menuju integrasi riset lintas negara.

Sebagai langkah awal implementasi, delegasi TINT dijadwalkan mengunjungi fasilitas riset nuklir BRIN di Serpong, Banten, serta fasilitas 13 MeV DECY Cyclotron di Babarsari, Sleman, Yogyakarta.

Kolaborasi ini menandai babak baru: ketika negara-negara ASEAN mulai serius membangun kedaulatan teknologi nuklir—bukan hanya untuk energi, tetapi juga untuk kesehatan, industri, dan masa depan inovasi kawasan. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Pasar Karbon Indonesia Tersendat, Kehutanan Gagal Jadi Motor Utama

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *