BRUSSELS – Uni Eropa kembali menunjukkan ambisi besarnya dalam perang melawan krisis iklim.
Blok negara tersebut resmi menyepakati target drastis: memangkas emisi gas rumah kaca hingga 90 persen pada 2040 dibandingkan tingkat emisi tahun 1990.
Keputusan ini menjadikan Uni Eropa sebagai salah satu kawasan dengan target iklim paling agresif di dunia, bahkan dinilai lebih ambisius dibandingkan komitmen sebagian besar ekonomi besar global, termasuk China.
Kesepakatan ini lahir setelah perdebatan panjang antara pemerintah negara anggota dan Parlemen Eropa sejak 2025.
Dalam pemungutan suara di Parlemen Eropa, 413 anggota mendukung, 226 menolak, dan 12 abstain, menandai langkah besar menuju revisi Undang-Undang Iklim Uni Eropa.
“Anggota Parlemen Eropa mendukung kesepakatan politik dengan Dewan mengenai amandemen Undang-Undang Iklim Uni Eropa untuk memasukkan target iklim baru yang mengikat pada 2040, yakni pengurangan emisi gas rumah kaca bersih sebesar 90 persen dibandingkan tingkat tahun 1990,” demikian pernyataan resmi Parlemen Eropa dikutip Jumat (6/3/2026) .
Industri Dipaksa Pangkas Emisi Besar-besaran
Target ambisius ini menuntut perubahan drastis di sektor industri. Negara-negara anggota Uni Eropa diwajibkan mengurangi emisi industri hingga 85 persen dibandingkan tingkat tahun 1990.
Langkah ini diyakini akan memaksa transformasi besar pada sektor energi, manufaktur, hingga transportasi di seluruh Eropa.
Untuk membantu mencapai target tersebut, Uni Eropa juga membuka opsi pendanaan pengurangan emisi di negara berkembang melalui skema kredit karbon internasional.
Dengan mekanisme ini, negara berkembang dapat mengurangi emisi atas nama Eropa melalui proyek-proyek hijau.
Blok tersebut bahkan mempertimbangkan penggunaan kredit karbon internasional hingga 5 persen dari total target pengurangan emisi pada 2040. Kebijakan ini sekaligus diharapkan dapat mengurangi tekanan pada pengurangan emisi domestik yang sangat mahal.
Pasar Karbon Eropa Ditunda
Namun kebijakan baru ini juga membawa konsekuensi. Peluncuran pasar karbon baru Uni Eropa terpaksa ditunda selama satu tahun.
Jika sebelumnya direncanakan dimulai pada 2027, kini implementasinya mundur menjadi 2028. Penundaan ini dilakukan untuk memberi ruang kompromi dan mengamankan dukungan dari negara-negara anggota yang masih skeptis terhadap target iklim baru.
Perdebatan Panas di Dalam Uni Eropa
Kesepakatan ini tidak lahir tanpa konflik. Sejumlah negara mendorong target yang lebih ambisius karena dampak krisis iklim yang semakin nyata.
Spanyol, misalnya, menilai kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan yang semakin sering terjadi menjadi alarm keras bagi Eropa untuk mempercepat aksi iklim.
Namun di sisi lain, beberapa negara khawatir kebijakan ini justru membebani industri mereka.
Polandia dan Italia termasuk yang mencoba melonggarkan target pengurangan emisi dengan alasan sektor industri sedang menghadapi tekanan ekonomi dan tidak siap menanggung investasi transisi energi yang sangat besar.
Pada akhirnya, para menteri negara anggota Uni Eropa memberikan persetujuan akhir dalam pertemuan di Brussels, menjadikan target ini mengikat secara hukum.
Meski demikian, tidak semua negara sepakat. Republik Ceko, Slovakia, Polandia, dan Hungaria secara terbuka menolak kebijakan tersebut.
Eropa Ingin Pimpin Perang Global Melawan Emisi
Dengan disahkannya target ini, Uni Eropa memperkuat posisinya sebagai salah satu pemimpin global dalam agenda dekarbonisasi dan transisi energi.
Langkah ini juga menjadi sinyal kuat kepada dunia bahwa era ekonomi rendah karbon semakin tak terelakkan, sementara negara-negara yang lambat bertransisi berisiko tertinggal dalam persaingan ekonomi global. (TR Network)


Komentar