Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Apa Kabar Bursa Karbon Indonesia?

Apa Kabar Bursa Karbon Indonesia?

Pergerakan transaksi di Bursa Karbon Indonesia. Arsip

JAKARTA – Apa kabar bursa karbon Indonesia?

Di tengah sorotan global terhadap krisis iklim dan target net zero emission, Bursa Efek Indonesia (BEI) justru tancap gas memperkuat pendanaan hijau melalui perdagangan karbon dan berbagai instrumen keuangan berbasis ESG.

Melalui IDXCarbon, BEI mencatatkan kinerja impresif sepanjang 2025. Volume transaksi karbon mencapai 903.915 tonCO₂e dengan nilai transaksi menembus Rp36,37 miliar dari 213 kali transaksi. Angka ini menjadi pencapaian tertinggi sejak bursa karbon diluncurkan pada September 2023.

Tak hanya itu, volume retirement karbon tercatat sebesar 574.324 tonCO₂e, disertai peningkatan proyek Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) menjadi sembilan proyek.

Jumlah pengguna jasa pun melonjak menjadi 150 entitas, termasuk tujuh partisipan asing, terutama setelah perdagangan karbon internasional resmi dibuka pada 20 Januari 2025.

Perhutanan Sosial: Pemerintah Buka 8,3 Juta Hektare Hutan untuk Rakyat

Lonjakan Pendanaan ESG: Naik 110 Persen

Komitmen terhadap keuangan berkelanjutan juga tercermin dari penerbitan obligasi dan sukuk bertema Green, Social, Sustainable, dan Sustainable Linked yang menghimpun dana hingga Rp35,5 triliun pada 2025—melonjak 110 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp11,5 triliun.

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa dekarbonisasi bukan sekadar tren, melainkan perjalanan jangka panjang bagi perusahaan tercatat.

“Dekarbonisasi adalah journey. Karena itu, BEI hadir dengan program, produk, dan inisiatif yang membantu perusahaan memulai dan melanjutkan proses tersebut,” ujarnya di Main Hall BEI, Jakarta, dikutip Senin (23/2/2026).

Sejumlah inisiatif strategis pun digulirkan, mulai dari peluncuran pelaporan ESG Metrics melalui sistem SPE-IDXNet, program IDX Net Zero Incubator 2025, kerja sama dengan lembaga pemeringkat ESG global, hingga peluncuran laman IDX Sustainability.

Pengakuan Internasional dan Ambisi Regional

Langkah progresif ini membuahkan pengakuan global. IDXCarbon meraih penghargaan Best Official Carbon Exchange in an Emerging Economy 2025 dari Green Cross United Kingdom pada Juni 2025.

UMKM di Bandung Galakkan Hidroponik: Panen Cuan dari Lahan Sempit

Tak berhenti di situ, BEI juga mengambil peran strategis sebagai salah satu penyelenggara ASEAN Climate Forum (ACF) 2026, forum penting yang diinisiasi oleh ASEAN Business Advisory Council dan ASEAN Alliance on Carbon Markets.

Forum ini menjadi ruang dialog transisi energi berkeadilan, investasi berbasis iklim, serta penguatan ekosistem pasar karbon dan keuangan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

ACF 2026 turut dihadiri Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Wakil Perdana Menteri Malaysia YAB Datuk Amar Haji Fadillah bin Haji Yusof, serta pimpinan otoritas pasar modal Indonesia.

Menuju Net Zero: Hanya Ambisi atau Akselerasi Nyata?

BEI optimistis mampu mempercepat mobilisasi pendanaan hijau sekaligus membantu Indonesia mencapai target net zero emission. Sinergi dengan regulator, pelaku usaha, dan mitra internasional disebut menjadi kunci.

Kini pertanyaannya: apakah lonjakan transaksi dan instrumen ESG ini cukup kuat menjadikan bursa karbon Indonesia sebagai motor transisi energi nasional?

Sorgum dan Gandum Tropika Siap Ubah Peta Pangan Indonesia

Yang jelas, data 2025 menunjukkan satu hal: bursa karbon Indonesia tidak lagi sekadar simbol, tetapi mulai bergerak sebagai instrumen nyata pembiayaan hijau di Asia Tenggara. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *