News
Beranda / News / Bencana Banjir di Demak: Ratusan Hektare Sawah Ludes, Ribuan Warga Terdampak

Bencana Banjir di Demak: Ratusan Hektare Sawah Ludes, Ribuan Warga Terdampak

Banjir besar yang menerjang Kabupaten Demak, Jawa Tengah sejak 3 April 2026. Foto BNPB

DEMAK – Banjir besar yang menerjang Kabupaten Demak, Jawa Tengah sejak 3 April 2026 kian meluas dan memukul dua sektor sekaligus: permukiman dan pertanian. Ribuan warga terdampak, sementara ratusan hektare sawah tenggelam.

Bencana ini dipicu oleh curah hujan tinggi, luapan Sungai Tuntang, serta jebolnya tanggul di sejumlah titik, yang menyebabkan air dengan cepat merendam wilayah permukiman hingga lahan produktif warga.

Dampak Meluas: Permukiman hingga Lahan Pangan Lumpuh

Data terbaru mencatat dampak signifikan: 2.116 rumah terdampak, 29 tempat ibadah terendam, 18 sekolah tergenang, 7.606 jiwa terdampak, 2.839 jiwa mengungsi.

Tak hanya itu, sektor pertanian ikut terpukul. Sebanyak 671 hektare sawah di sembilan desa terendam, memicu ancaman terhadap produksi pangan lokal.

Wilayah terparah berada di Desa Trimulyo dan Sidoharjo, dengan total sekitar 660 hektare sawah terdampak hanya di dua desa tersebut. Di sejumlah titik, tanaman padi bahkan tak lagi terlihat karena sepenuhnya tertutup genangan.

Krisis Sampah Laut di Indonesia: Menteri LH Ungkap Fakta Pahit

Kepala Pelaksana BPBD Demak, Agus Sukiyono, menyebut ketinggian air di area pertanian bervariasi, namun dampaknya tetap signifikan bagi petani.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Demak, Agus Herawan, menjelaskan bahwa sebagian besar tanaman padi yang terendam masih berusia sekitar 30 hari. Artinya, jika terjadi puso (gagal panen), kerugian belum maksimal karena belum memasuki fase produktif.

“Jika ada yang puso, akan kami data untuk diusulkan bantuan dari pusat,” ujarnya.

Bantuan berupa benih padi disiapkan agar petani bisa kembali menanam pascabanjir.

Tanggul Jebol, Air Datang Mendadak

Banjir diperparah oleh jebolnya tanggul di sejumlah titik krusial, terutama di Kecamatan Guntur.

Langit Indonesia Dihujani Sampah Antariksa

Di Desa Trimulyo, terdapat tiga titik tanggul jebol dengan panjang hingga 30 meter dan 10 meter. Sementara di Desa Sidoharjo, tiga titik lainnya rusak sepanjang sekitar 15 meter.

Kerusakan ini menyebabkan air meluap deras, merendam permukiman, fasilitas umum, hingga areal persawahan.

Warga menggambarkan datangnya banjir berlangsung sangat cepat. Air disebut langsung mengalir deras dari tanggul sebelum akhirnya jebol dan tak terkendali.

Pemerintah Turun Tangan, Bantuan Digelontorkan

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan hal itu saat meninjau langsung pengungsian di Kantor Kecamatan Guntur.

Harga Pangan Naik, FAO Ingatkan Ancaman Krisis Baru

“Layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, bahan pokok, dan makanan harus terpenuhi. Tidak boleh ada yang terlewat,” tegasnya.

Pemprov Jateng telah menggelontorkan bantuan senilai Rp236.985.411 dari berbagai instansi, mulai dari BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan hingga PMI.

Selain menyalurkan bantuan, gubernur juga berdialog langsung dengan warga untuk memastikan kondisi mereka.

Usai peninjauan, rapat terbatas digelar bersama Bupati Demak Eisti’anah guna merumuskan langkah penanganan lanjutan.

“Penanganan harus dari hulu sampai hilir agar tuntas,” ujarnya, menegaskan bahwa persoalan banjir Demak tidak bisa diselesaikan secara parsial.

Banjir Mulai Surut, Pengungsi Berangsur Pulang

Memasuki 5 April 2026, kondisi banjir dilaporkan mulai berangsur surut. Sejumlah warga yang sebelumnya mengungsi mulai kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan.

BPBD Demak mencatat, jumlah pengungsi terus berkurang. Di beberapa titik, hanya tersisa belasan warga yang masih bertahan, dan sebagian besar dijadwalkan segera pulang.

Meski demikian, dampak bencana masih terasa. Selain kerusakan rumah dan fasilitas umum, infrastruktur seperti jalan dan jembatan juga terdampak, mengganggu mobilitas warga.

Alarm Krisis Pesisir Utara Jawa

Banjir Demak kembali menjadi peringatan keras bagi kawasan pesisir utara Jawa. Kombinasi antara kerusakan tanggul, tekanan lingkungan, dan cuaca ekstrem membuat wilayah ini semakin rentan terhadap bencana berulang.

Dampaknya tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga ketahanan pangan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *