ISLAMABAD – Kombinasi banjir monsun dahsyat, kekeringan berkepanjangan, dan meningkatnya kekerasan telah mendorong 7,5 juta rakyat di Pakistan ke jurang krisis pangan akut.
Laporan terbaru dari sistem pemantau kelaparan global, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), memperingatkan bahwa lebih dari satu juta jiwa berada di ambang “darurat” dan membutuhkan bantuan penyelamatan nyawa segera.
Dalam periode Desember 2025 hingga Maret 2026, sekitar 1,25 juta orang diproyeksikan berada pada Level Darurat (Emergency) – fase yang ditandai dengan kesenjangan konsumsi pangan besar dan tingkat malnutrisi akut yang tinggi.
IPC menegaskan, tanpa intervensi cepat, situasi ini bisa berkembang menjadi “bencana kemanusiaan”.
Pemicunya: Banjir, Kekeringan, dan Insekuritas
Dampak sisa banjir monsun 2025 masih menghantui wilayah pertanian. Di saat bersamaan, kekeringan dan periode kering panjang melemahkan produksi tanaman serta mata pencaharian peternak. Ketidakamanan lokal turut mengganggu distribusi dan akses pasar.
Musim paceklik (Desember–Februari) memperparah kondisi, karena peluang kerja pertanian menyusut drastis. Di sejumlah wilayah, musim dingin yang keras semakin membatasi mobilitas dan aktivitas ekonomi warga.
Daya beli masyarakat juga tergerus oleh volatilitas harga, ketergantungan pasar, serta utang rumah tangga. Tepung gandum – makanan pokok utama – menjadi komoditas paling mengkhawatirkan selama musim paceklik ini.
Konsentrasi Terparah di Balochistan dan Sindh
Analisis IPC mencakup 45 wilayah rentan yang merepresentasikan sekitar 15 persen populasi Pakistan.
Provinsi Balochistan mencatat beban proporsional tertinggi, dengan 25 persen populasi yang dianalisis mengalami tingkat kerawanan pangan tinggi atau lebih buruk.
Sementara itu, di wilayah Sindh, lebih dari 3 juta orang menghadapi tingkat kerawanan pangan tinggi. Di distrik Musakhel, Zhob, Kachi, Tank, dan Torghar, sekitar 30 persen penduduk berada dalam kondisi serupa – angka yang mencerminkan tekanan multidimensi yang terus memburuk.
Ada Harapan, Tapi Rapuh
Untuk periode April hingga September 2026, jumlah warga yang diproyeksikan menghadapi kerawanan pangan tinggi diperkirakan turun menjadi 6,7 juta orang – berkurang sekitar 855.000 dari periode sebelumnya.
Penurunan ini sebagian dipengaruhi oleh panen musim dingin dan peningkatan penjualan ternak menjelang Idulfitri.
Namun IPC mengingatkan, faktor risiko seperti harga bahan pokok tinggi, ancaman iklim, gangguan perdagangan lintas batas, dan insekuritas masih akan membayangi.
Lebih jauh, perbandingan dengan tahun lalu dinilai menyesatkan karena cakupan geografis analisis kini menyusut dari 68 distrik menjadi 45. Artinya, prevalensi malnutrisi sebenarnya relatif tidak berubah secara signifikan.
Seruan Mendesak: Bantuan Tunai hingga Distribusi Pangan
Untuk menutup kesenjangan konsumsi dan melindungi kehidupan warga, laporan tersebut menyerukan peningkatan akses terhadap makanan cukup dan bergizi. Skema yang direkomendasikan mencakup:
– Bantuan tunai dan voucher pangan
– Distribusi pangan langsung yang ditargetkan
– Mekanisme distribusi adaptif sesuai konteks lokal
Tanpa eskalasi bantuan segera, jutaan warga Pakistan berisiko terjerumus lebih dalam ke krisis yang bukan hanya soal kelaparan, tetapi juga kelangsungan hidup generasi mendatang. (TR Network)


Komentar