News
Beranda / News / Bencana Jakarta: Longsor Gunung Sampah Tewaskan 3 Orang, Banjir Rendam Ribuan Rumah

Bencana Jakarta: Longsor Gunung Sampah Tewaskan 3 Orang, Banjir Rendam Ribuan Rumah

Sebanyak 13 unit ekskavator dikerahkan untuk membuka timbunan sampah yang menutup kendaraan dan area kerja di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang menewaskan tiga orang pada Minggu (8/3/2026). Ist

JAKARTA – Kota Jakarta kembali diuji oleh rangkaian bencana dalam waktu hampir bersamaan.

Longsor gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang menewaskan tiga orang pada Minggu (8/3/2026), sementara hujan ekstrem memicu banjir yang merendam puluhan rukun tetangga (RT) serta belasan ruas jalan di berbagai wilayah Jakarta.

Peristiwa ini memperlihatkan betapa rapuhnya sistem pengelolaan lingkungan perkotaan ketika tekanan cuaca ekstrem dan persoalan tata kelola sampah terjadi secara bersamaan.

Longsor Gunungan Sampah Bantargebang Tewaskan Tiga Orang

Tragedi terjadi sekitar pukul 15.29 WIB di Zona 4 TPST Bantargebang, Kota Bekasi, ketika gunungan sampah raksasa tiba-tiba longsor dan menimpa sejumlah kendaraan serta orang yang berada di lokasi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyampaikan duka cita atas kejadian tersebut.

Darurat Laut Dunia: 36 Persen Terumbu Karang Terancam Hilang

Tiga korban meninggal dunia yang telah teridentifikasi adalah:

– Sumini (60), pemilik warung di sekitar lokasi
– Dedi Sutrisno, pengemudi truk Sudin LH Jakarta Pusat
– Endah Widayati (25), seorang pemulung

Selain itu, seorang pengemudi truk Sudin LH Jakarta Selatan bernama Slamet mengalami luka ringan dan telah mendapatkan perawatan medis sebelum diperbolehkan pulang.

Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan pemerintah langsung mengaktifkan operasi tanggap darurat untuk menangani korban serta menstabilkan area longsoran.

“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah ini. Penanganan darurat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi,” ujar Asep.

Kawasan Industri Pesisir Disiapkan Jadi Mesin Karbon Biru

Operasi Evakuasi Besar-besaran di Bantargebang

DLH DKI Jakarta bersama tim gabungan langsung mengerahkan operasi penyelamatan di lokasi. Tim yang terlibat antara lain: Yon Armed 7/155 GS Kodam Jaya, BPBD DKI Jakarta, BPBD Kota Bekasi, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, Polsek Bantargebang hingga Koramil 05/Bantargebang.

Sebanyak 13 unit ekskavator dikerahkan untuk membuka timbunan sampah yang menutup kendaraan dan area kerja.

Dari tujuh truk yang terdampak longsor, lima di antaranya telah berhasil dievakuasi. Dua truk lainnya masih dalam proses penyelamatan karena tertimbun material sampah.

Selain evakuasi korban, tim juga melakukan stabilisasi zona timbunan untuk mencegah longsor susulan yang berpotensi membahayakan pekerja di lapangan.

DLH juga memastikan korban yang merupakan petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) akan memperoleh santunan melalui BPJS Ketenagakerjaan, sementara korban lain seperti pemulung dan pemilik warung akan menerima bantuan sosial dari pemerintah daerah.

Bom Waktu Bantargebang: Waspadai Ledakan Gas Metana dan Racun

Banjir Jakarta Meluas Akibat Hujan Ekstrem

Di saat yang hampir bersamaan, ribuan rumah di Jakarta juga dilanda banjir akibat hujan ekstrem yang mengguyur wilayah ibu kota sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi.

Data BPBD DKI Jakarta menunjukkan banjir merendam puluhan RT dan sedikitnya 19 ruas jalan di berbagai wilayah Jakarta.

Wilayah terdampak antara lain: Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Ketinggian genangan air bervariasi antara 10 sentimeter hingga lebih dari 1 meter, tergantung lokasi dan kondisi drainase.

Sejumlah ruas jalan utama yang terdampak banjir antara lain: Jalan Daan Mogot, Jalan Cileduk Raya, Jalan Kapten Pierre Tendean, Jalan Meruya Selatan, Jalan Bendungan Hilir, hingga Jalan Petamburan II.

Genangan di sejumlah ruas jalan tersebut sempat mengganggu aktivitas lalu lintas dan mobilitas warga.

Curah Hujan Jakarta Tembus 264 Milimeter

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan hujan yang mengguyur Jakarta tergolong sangat ekstrem.

Dalam satu hari, intensitas hujan tercatat mencapai 264 milimeter, jauh melampaui rata-rata curah hujan harian di wilayah ibu kota.

“Curah hujan hari ini mencapai 264 milimeter per hari. Itu termasuk kategori sangat tinggi,” kata Pramono.

Data BMKG menunjukkan hujan ekstrem tercatat di wilayah Sunter Hulu (Cilangkap) dan kawasan Pompa Arcadia Kalibata.

Selain hujan lokal, Jakarta juga menerima aliran air kiriman dari wilayah hulu, terutama dari Bogor dan Tangerang, yang turut diguyur hujan lebat.

1.200 Pompa Dikerahkan untuk Surutkan Banjir

Untuk mempercepat surutnya genangan, Pemprov DKI Jakarta mengerahkan sekitar 1.200 unit pompa pengendali banjir, yang terdiri dari:

– 668 pompa stasioner di 243 lokasi
– 536 pompa mobile di berbagai titik rawan banjir

Ribuan petugas dari Dinas Sumber Daya Air (SDA) juga diterjunkan ke lapangan untuk mempercepat proses penyedotan air.

Selain itu, pemantauan tinggi muka air di sejumlah sungai menunjukkan sempat terjadi peningkatan status kewaspadaan.

Di Pintu Air Manggarai, ketinggian air Kali Ciliwung sempat mencapai 845 cm sebelum akhirnya berangsur turun pada siang hari.

Normalisasi Sungai Jadi Strategi Jangka Menengah

Sebagai langkah jangka menengah, Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat pengendalian banjir melalui program normalisasi sungai.

Beberapa sungai yang saat ini menjadi fokus penataan antara lain: Kali Ciliwung, Kali Cakung Lama dan Kali Krukut.

Normalisasi Kali Cakung Lama ditargetkan rampung pada 2027, yang diharapkan mampu menekan risiko banjir di sejumlah wilayah Jakarta.

Jakarta Hadapi Tantangan Lingkungan yang Kompleks

Rangkaian peristiwa longsor di TPST Bantargebang dan banjir besar di Jakarta menjadi pengingat bahwa kota megapolitan ini menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Mulai dari pengelolaan sampah raksasa, curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim, hingga tekanan urbanisasi yang terus meningkat.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah penanganan korban, stabilisasi area longsor, serta percepatan penanganan banjir agar aktivitas warga dapat segera kembali normal. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *