Site icon Tropis.id

Biorevolution Mengubah Wajah Riset Zoologi Indonesia

Biorevolution. Arsip

CIBINONGBiorevolution kini menjadi fondasi utama arah baru riset zoologi terapan di Indonesia.

Pendekatan ini menandai transformasi riset hayati dari sekadar eksplorasi keanekaragaman spesies menuju pemanfaatan biomolekul, biosistem, dan bio-interface sebagai basis pengembangan teknologi masa depan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN, Andes Hamuraby Rozak, dalam Rapat Koordinasi bertema “PRZT Hebat untuk Riset Berdampak” di Kawasan Kerja Bersama Kusnoto BRIN, Bogor.

Menurut Andes, tantangan riset ke depan menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengintegrasikan biologi dengan teknologi modern, termasuk komputasi dan kecerdasan buatan.

“Riset zoologi tidak lagi berhenti pada kajian spesies, tetapi bergerak menuju pemanfaatan sistem biologis sebagai fondasi teknologi,” ujarnya dikutip Senin (9/2/2026).

Benahi Tata Kelola Hutan, Indonesia–Inggris Lanjutkan Kerja Sama MFP Phase 5

Ia menyoroti peluang pengembangan biocomputing, termasuk penyimpanan data berbasis DNA yang secara teoritis memiliki kapasitas jauh lebih besar dibandingkan media konvensional, meski masih menghadapi tantangan teknis dan kesiapan SDM. Bidang ini disebut sebagai bagian dari arus besar biorevolution global.

Lebih lanjut, Andes menegaskan bahwa kemajuan Indonesia tidak cukup bertumpu pada teknologi ekstraktif atau industrialisasi konvensional.

Keunggulan nasional justru terletak pada keanekaragaman hayati yang, melalui pendekatan biorevolution, dapat diolah menjadi inovasi bernilai tambah tinggi.

“Riset harus menghasilkan dampak nyata dan sejalan dengan RPJMN 2025–2029, khususnya dalam mendukung sektor pangan, kesehatan, energi, dan air melalui produk riset yang aplikatif,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Andes juga mengapresiasi capaian kinerja Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN sepanjang 2025 yang dinilai sangat baik dan menjadi pijakan kuat untuk mempercepat agenda riset berbasis biorevolution.

Mengapa Dunia Gagal Menghadapi Krisis Iklim?

Sementara itu, Kepala PRZT BRIN Delicia Yunita Rahman menegaskan tahun 2026 sebagai momentum penting untuk memperkuat peran strategis riset zoologi terapan yang berorientasi dampak.

“Setiap penelitian tidak hanya dituntut unggul secara akademis, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan bangsa serta menjaga keberlanjutan sumber daya hayati,” ujarnya.

Delicia menekankan pentingnya inovasi, pendekatan adaptif, serta penguatan sinergi internal dan kapasitas SDM agar hasil riset zoologi terapan dapat dihilirkan secara lebih luas.

Menurutnya, biorevolution membuka ruang lahirnya gagasan baru dan pendekatan riset lintas disiplin yang lebih relevan dengan kebutuhan pembangunan.

Ia juga mengapresiasi capaian PRZT BRIN yang kembali meraih predikat istimewa selama dua tahun berturut-turut sejak 2024, sebagai indikator konsistensi produktivitas ilmiah dan hilirisasi riset hayati.

Waspdai El Nino, Ilmuwan Ingatkan Suhu Bumi Bisa Pecah Rekor Baru pada 2027

Ketua Perencanaan, Monitoring, dan Evaluasi (PME) PRZT 2025, Isyana, memaparkan capaian tersebut sebagai hasil kerja kolektif seluruh sivitas.

Sepanjang 2025, jumlah publikasi ilmiah hampir dua kali lipat dari target, kekayaan intelektual meningkat, serta penerapan teknologi dan produk kreatif melampaui sasaran.

“Secara keseluruhan, capaian kinerja PRZT BRIN tahun 2025 mencapai rata-rata 145 persen, dengan sekitar 50 persen publikasi berasal dari jurnal bereputasi tinggi,” jelasnya.

Rangkaian rapat koordinasi juga memaparkan program kerja 2026 yang diarahkan untuk memperkuat tata kelola riset biorevolution, termasuk fasilitasi kerja sama, hilirisasi hasil penelitian, penguatan publikasi dan kekayaan intelektual, serta pengelolaan informasi dan konten kreatif.

Penguatan tata kelola organisasi turut disampaikan oleh Biro Organisasi dan SDM BRIN serta Direktorat Pembinaan Jabatan Fungsional dan Pengembangan Profesi BRIN, termasuk pemanfaatan Sistem Informasi Jabatan Fungsional Riset dan Inovasi (SIJAFRI) sebagai instrumen pendukung pengembangan karier peneliti dalam ekosistem biorevolution.

Rapat koordinasi yang diikuti sekitar 84 sivitas PRZT BRIN ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sejumlah perguruan tinggi dan mitra industri.

Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas jejaring riset zoologi terapan sekaligus mempercepat pemanfaatan hasil riset berbasis biorevolution pada sektor produktif.

Sebagai penutup, BRIN memberikan penghargaan kepada sivitas berprestasi serta cendera mata bagi pegawai yang memasuki masa purna tugas.

Langkah ini menegaskan komitmen BRIN membangun ekosistem riset zoologi terapan berbasis biorevolution yang solid, produktif, dan berdampak nyata bagi masyarakat serta pembangunan nasional. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version