BEKASI – Tragedi longsor gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, kembali membuka tabir krisis pengelolaan sampah Jakarta.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu (8/3/2026) itu menewaskan empat orang, sementara lima lainnya masih dalam proses pencarian di bawah timbunan sampah raksasa.
Longsor terjadi saat sejumlah truk sampah mengantre untuk membuang muatan di area TPST Bantargebang. Tiba-tiba, gunungan sampah runtuh dan menimpa sopir truk serta warga yang berada di sekitar lokasi pembuangan.
Pada Senin (9/3/2026) pagi, tim gabungan mengerahkan sedikitnya 15 unit ekskavator untuk membongkar timbunan sampah dan mempercepat proses pencarian korban yang diduga masih tertimbun.
Namun bagi para ahli lingkungan, tragedi ini dipandang tidak hanya sebagai kecelakaan semata. Longsor Bantargebang disebut sebagai akibat langsung dari krisis kapasitas pengelolaan sampah yang telah berlangsung lama.
Gunungan Sampah Terlalu Tinggi, Lahan Sudah Mentok
TPST Bantargebang saat ini menerima sekitar 7.500 ton sampah setiap hari dari Jakarta dan wilayah sekitarnya. Volume raksasa ini membuat area penimbunan semakin padat, sementara perluasan lahan hampir tidak mungkin lagi dilakukan.
Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Mochammad Chaerul, menjelaskan bahwa keterbatasan lahan membuat tumpukan sampah di Bantargebang semakin tinggi dan curam sehingga rentan longsor.
“Karena keterbatasan lahan, timbunan sampah eksisting sudah sangat tinggi dan curam,” kata Chaerul, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, lereng tumpukan sampah yang terlalu curam menyebabkan ketidakstabilan struktur landfill. Saat terjadi penambahan beban secara tiba-tiba—misalnya akibat hujan deras—struktur timbunan menjadi mudah runtuh.
Situasi ini diperparah karena kapasitas pengolahan sampah modern di Bantargebang masih sangat terbatas.
Fasilitas RDF Belum Mampu Menahan Ledakan Sampah
Secara teori, TPST Bantargebang telah memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu bahan bakar alternatif yang berasal dari sampah.
Fasilitas ini memproses sampah segar sekaligus sampah hasil penambangan dari zona landfill. Namun kapasitas pengolahannya masih jauh di bawah volume sampah yang masuk setiap hari.
Akibatnya, sebagian besar sampah tetap berakhir sebagai timbunan raksasa yang terus meninggi, memperbesar risiko longsor.
Ancaman Air Lindi: Racun yang Mengalir ke Sungai
Longsor sampah tidak hanya berbahaya bagi manusia yang berada di sekitar lokasi, tetapi juga berpotensi menciptakan bencana pencemaran lingkungan.
Chaerul menjelaskan bahwa runtuhnya timbunan sampah dapat memicu keluarnya air lindi, yaitu cairan limbah beracun yang terbentuk dari proses pembusukan sampah.
Ketika longsor terjadi, air lindi yang sebelumnya terperangkap di dalam tumpukan sampah akan keluar secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar.
Masalahnya, aliran limbah ini tidak semuanya dapat masuk ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang tersedia.
Sebagian berpotensi meluap ke badan air di sekitar TPST, termasuk Sungai Ciasem yang mengelilingi kawasan Bantargebang.
“Hal ini bisa mengakibatkan pencemaran air yang jauh lebih besar,” ujar Chaerul.
Bom Gas Metana Mengintai
Selain pencemaran air, ancaman lain yang tidak kalah berbahaya adalah gas metana.
Gas ini dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik di dalam timbunan landfill. Dalam kondisi tertentu, gas metana dapat terakumulasi dalam jumlah besar.
Jika terjadi longsor, gas tersebut bisa keluar secara tiba-tiba dan menciptakan risiko kebakaran atau bahkan ledakan.
Karena itu, Chaerul mengingatkan agar seluruh pekerja dan pihak yang berada di lokasi benar-benar menghindari sumber api.
“Tidak boleh ada percikan api di lokasi. Semua orang harus dipastikan tidak merokok,” tegasnya.
Tragedi yang Terus Berulang
Longsor di Bantargebang bukan kejadian pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini berkali-kali mengalami insiden serupa akibat penumpukan sampah yang terus meningkat.
Tragedi terbaru yang menelan korban jiwa kembali menegaskan bahwa sistem pengelolaan sampah metropolitan Jakarta berada dalam tekanan serius.
Tanpa perubahan besar dalam strategi pengolahan sampah—mulai dari pengurangan sampah di sumbernya, peningkatan kapasitas teknologi pengolahan, hingga pengelolaan landfill yang lebih aman—Bantargebang berpotensi terus menjadi “bom waktu ekologis” di jantung megapolitan Jakarta. (TR Network)


Komentar