News
Beranda / News / Bom Waktu Laut Indonesia: Terumbu Karang Hancur, Ekonomi Pesisir Terancam

Bom Waktu Laut Indonesia: Terumbu Karang Hancur, Ekonomi Pesisir Terancam

Peningkatan suhu perairan yang memicu pemutihan (bleaching) terumbu Karang di lautan. Arsip

JAKARTA – Ancaman besar tengah mengintai laut Indonesia.

Di balik keindahan bawah lautnya, terumbu karang—fondasi utama ekosistem pesisir—mengalami kerusakan masif yang kini telah mencapai skala global.

Data ilmiah menunjukkan, sekitar 50 persen tutupan karang dunia telah hilang, memicu kekhawatiran serius terhadap masa depan lingkungan dan ekonomi pesisir.

Dalam orasi ilmiah pada pengukuhan Profesor Riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi, Taslim Arifin, menegaskan bahwa krisis ini merupakan hasil akumulasi tekanan yang kompleks—mulai dari perubahan iklim hingga aktivitas manusia yang tidak terkendali.

“Degradasi ini bukan disebabkan satu faktor, melainkan kombinasi tekanan antropogenik, variabilitas iklim global, dan perubahan oseanografi,” ujarnya di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Gempa Bumi 7,6 Sulut: Tsunami Muncul di 5 Wilayah dan 93 Gempa Susulan

Krisis Nyata: Laut Memanas, Karang Sekarat

Penelitian menunjukkan bahwa penurunan kualitas terumbu karang sangat berkaitan dengan:

– Peningkatan suhu perairan yang memicu pemutihan (bleaching)
– Sedimentasi tinggi akibat aktivitas daratan
– Kelebihan nutrien seperti nitrat dan fosfat
– Tekanan pembangunan pesisir dan eksploitasi sumber daya

Fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) turut memperparah kondisi dengan meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem dan tekanan terhadap ekosistem laut.

Dampak Ekonomi: Pesisir di Ambang Kerentanan

Kerusakan terumbu karang bukan sekadar isu lingkungan. Ia berpotensi menghantam: Perikanan tradisional, Pariwisata bahari hingga Ketahanan pangan masyarakat pesisir.

Jika dibiarkan, kerusakan ini dapat berubah menjadi krisis ekonomi dan sosial di wilayah pesisir Indonesia.

Mengapa Pemulihan Pascabencana di Indonesia Selalu Rumit?

Masalah Lama: Kebijakan Belum Terpadu

Taslim menyoroti lemahnya pengelolaan selama ini, yang masih: bersifat sektoral dan parsial, minim integrasi antar-ekosistem dan belum memiliki standar nasional komprehensif.

Akibatnya, kebijakan konservasi kerap tidak mampu menjawab kompleksitas persoalan di lapangan.

IDDE: Pendekatan Baru Berbasis Sains

Sebagai respons, BRIN mengembangkan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE)—sebuah instrumen ilmiah yang mengintegrasikan: Kondisi geofisik, Dinamika oseanografi dan Tekanan aktivitas manusia.

Pendekatan ini memandang daya dukung sebagai sistem dinamis yang terus berubah, bukan sekadar batas statis.

“Dengan pendekatan terpadu, kita bisa memetakan tekanan dan kapasitas wilayah secara akurat, sekaligus memproyeksikan kondisi masa depan,” jelas Taslim.

RUU Masyarakat Adat Mandek di DPR, Potensi Konflik Kian Menganga

Sudah Diuji di Berbagai Wilayah

Penerapan IDDE telah dilakukan di sejumlah kawasan strategis, seperti: Teluk Saleh, Kepulauan Spermonde, Wakatobi, Teluk Jakarta hingga Nusa Penida.

Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data mampu memberikan gambaran kapasitas ekosistem yang lebih realistis dan mendukung kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Menuju Tata Kelola Laut Berkelanjutan

Taslim mengusulkan pembentukan kerangka nasional perlindungan terumbu karang berbasis daya dukung ekologi. Kerangka ini diharapkan menjadi dasar kebijakan lintas sektor yang mempertimbangkan keterkaitan ekologi, oseanografi, dan sosial-ekonomi.

Namun, tantangan masih menghadang mulai dari Keterbatasan data, Kapasitas sumber daya manusia hingga Kompleksitas sistem sosial-ekologi.

Meski demikian, IDDE dinilai sebagai langkah penting dalam menentukan batas pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Saatnya Berubah atau Tenggelam dalam Krisis

Taslim menegaskan, pengelolaan pesisir tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama. Ekosistem harus dipahami sebagai sistem yang: Dinamis, Kompleks dan Penuh ketidakpastian.

“Integrasi sains, kebijakan, dan praktik lokal menjadi kunci menghadapi krusakan ekosistem di tengah perubahan global,” ujarnya.

Tanpa langkah cepat dan terukur, bom waktu ini bisa meledak—menghancurkan tidak hanya terumbu karang, tetapi juga masa depan ekonomi pesisir Indonesia. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *