JAKARTA – Krisis pembiayaan kehutanan Indonesia kian mengkhawatirkan.
World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mengungkap fakta mengejutkan: aliran dana yang berkontribusi terhadap kerusakan hutan jauh lebih besar dibandingkan dana untuk perlindungan.
Dalam diskusi “Menutup Celah Pembiayaan Hutan di Indonesia” di Jakarta, Rabu (8/4/2026), Sustainable Finance Manager WWF Indonesia, Risyad Tri Setiaputra, menyebut kesenjangan pembiayaan sektor kehutanan mencapai sekitar USD5 miliar per tahun atau setara lebih dari Rp 50 triliun.
“Pembiayaan yang merusak hutan jauh lebih besar dibandingkan dana konservasi. Jika tidak segera diperbaiki, target lingkungan nasional akan semakin sulit dicapai,” tegas Risyad.
Ketimpangan Dana: Alarm Bahaya untuk Hutan Indonesia
Berdasarkan kajian WWF bersama Conservation Strategy Fund (CSF), realitas pembiayaan kehutanan menunjukkan jurang yang lebar:
– Aliran dana positif (konservasi): sekitar USD244 juta per tahun
– Aliran dana negatif (berisiko merusak hutan): mencapai USD3,4 miliar per tahun
Mayoritas dana negatif tersebut berasal dari sektor swasta berbasis lahan yang masih memberi tekanan besar terhadap kawasan hutan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem pembiayaan saat ini belum berpihak pada keberlanjutan, bahkan cenderung mempercepat degradasi lingkungan.
Arah Investasi Harus Diubah Total
Indonesia Country Director CSF Indonesia, Desta Pratama, menegaskan perlunya pergeseran besar dalam kebijakan investasi.
Menurutnya, investasi harus diarahkan ke aktivitas ramah lingkungan dan mengurangi tekanan terhadap hutan. Tanpa perubahan ini, pembiayaan justru akan terus menjadi faktor pendorong deforestasi, bukan solusi.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa untuk mencapai target kebijakan kehutanan nasional, Indonesia membutuhkan pembiayaan hingga USD5,3 miliar per tahun—angka yang menunjukkan besarnya celah yang harus segera ditutup.
Solusi: Uang Hijau dan Transparansi
WWF mendorong transformasi sistem keuangan sebagai langkah kunci, di antaranya melalui: Penguatan instrumen pembiayaan hijau seperti obligasi hijau, Pengembangan pasar karbon yang kredibel, Peningkatan transparansi dan manajemen risiko lingkungan dalam sistem keuangan.
“Transformasi sistem keuangan menjadi krusial untuk menutup kesenjangan ini dan memastikan pembiayaan benar-benar mendukung perlindungan hutan,” ujar Risyad.
Taruhan Besar: Iklim, Hutan, dan Masa Depan
WWF dan CSF menekankan bahwa keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.
Tanpa perubahan arah pembiayaan, Indonesia berisiko gagal mencapai target iklim sekaligus kehilangan hutan sebagai penopang utama ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah krisis iklim global, pertaruhan bukan lagi sekadar angka—melainkan masa depan hutan Indonesia yang kian tergerus oleh arus uang yang salah arah. (TR Network)

Komentar