Konservasi
Beranda / Konservasi / Darurat Ekosistem: Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

Darurat Ekosistem: Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

Aktivitas wisata di area Laut Pasir di Gunung Bromo. Arsip

JAKARTA – Kawasan wisata Gunung Bromo resmi ditutup total selama hampir sepekan.

Kebijakan drastis ini bukan tanpa alasan—lonjakan aktivitas wisata disebut telah menekan daya tahan ekosistem di kawasan konservasi tersebut.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menetapkan penutupan mulai Senin (6/4/2026) pukul 09.00 WIB hingga Minggu (12/4/2026) pukul 10.00 WIB. Selama periode ini, seluruh aktivitas wisata di area Laut Pasir dihentikan sepenuhnya.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijianta Tjahja Nugraha, menegaskan bahwa langkah ini merupakan “rem darurat” bagi alam yang sudah terlalu lama dipaksa bekerja tanpa jeda.

“Alam itu sama seperti manusia—butuh waktu untuk beristirahat dan memulihkan dirinya. Tidak mungkin digunakan terus-menerus tanpa jeda,” ujarnya.

243 Perusahaan di Indonesia Sabet PROPER Hijau, Berikut Daftarnya

Ekosistem Tertekan, Alam Butuh ‘Napas’

Penutupan ini difokuskan pada pemulihan sejumlah aspek krusial di kawasan kaldera, mulai dari: Regenerasi vegetasi yang terhambat akibat injakan wisatawan, Ketenangan satwa liar yang terganggu aktivitas manusia hingga Perbaikan struktur pasir di Lautan Pasir yang terus tergerus kendaraan.

Aktivitas wisata massal—terutama kendaraan jeep dan lonjakan kunjungan harian—dinilai mempercepat degradasi alami kawasan.

Momentum Setelah Ledakan Libur Lebaran

Kebijakan ini sengaja diambil setelah puncak kunjungan libur Lebaran dan Paskah, saat ribuan wisatawan memadati kawasan Bromo. Setelah tren kunjungan mulai menurun, TNBTS melihat ini sebagai waktu ideal untuk “mengosongkan” kawasan tanpa dampak ekonomi besar.

Selain itu, penutupan ini juga menandai kembalinya kebijakan konservasi yang sempat terhenti selama pandemi COVID-19.

“Sekarang aktivitas wisata sudah melonjak pesat pasca-pandemi. Kita harus kembalikan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian,” tambah Rudijianta.

Dana Perusak Hutan Lebih Besar dari Dana Konservasi: Kebocoran Rp 50 Triliun per Tahun

Alarm Bahaya

Penutupan sementara ini menjadi sinyal keras bahwa destinasi populer seperti Bromo tidak kebal dari krisis ekologis. Tanpa pengendalian, pariwisata justru bisa menjadi ancaman bagi keberlanjutan alam itu sendiri.

Dengan jeda ini, pengelola berharap ekosistem Bromo bisa “bernapas” kembali—sebelum kembali dibuka dan diserbu wisatawan.

Catat baik-baik: jika Anda berencana ke Bromo, pastikan tidak datang dalam periode penutupan ini—atau bersiap kecewa di gerbang masuk. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Mafia Tambang Murung Raya Terbongkar: 1.699 Hektare Disita Negara

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *