News
Beranda / News / Darurat Pesisir Indonesia: Rob, Abrasi, dan Amblesan Tanah Kian Tak Terkendali

Darurat Pesisir Indonesia: Rob, Abrasi, dan Amblesan Tanah Kian Tak Terkendali

Potret banjir rob saat menerjang Pantai Utara (Pantura) Jawa. Arsip

JAKARTA – Krisis pesisir Indonesia kini memasuki fase darurat. Kenaikan muka laut, banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah terus menghantam kawasan pesisir—terutama di Pantai Utara (Pantura) Jawa—mengancam permukiman, pangan, hingga urat nadi logistik nasional.

Tak lagi sekadar persoalan lingkungan, krisis ini telah menjelma menjadi tekanan sosial-ekonomi yang nyata.

Aktivitas pelabuhan terganggu, produksi perikanan menurun, dan mata pencaharian nelayan serta petambak terancam hilang.

Hal tersebut disampaikan Aprijanto, Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, dalam Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset, Selasa (31/3/2026).

“Genangan rob dan penurunan tanah akan menghapus mata pencaharian masyarakat pesisir, melemahkan ketahanan pangan, dan merusak aset maritim strategis nasional,” tegasnya.

Ambisi Nuklir ASEAN: Indonesia–Thailand Kolaborasi Bangun Teknologi Cyclotron

Infrastruktur Beton Tak Lagi Cukup

Selama ini, penanganan krisis pesisir masih bergantung pada pendekatan infrastruktur keras seperti tanggul beton, seawall, dan pompa. Namun pendekatan ini dinilai gagal menjawab dinamika iklim yang terus berubah.

Menurut Aprijanto, infrastruktur konvensional bersifat kaku, mahal, dan cepat usang karena dibangun dengan asumsi iklim statis. Akibatnya, perlindungan pesisir hanya bersifat sementara dan reaktif.

“Tanpa integrasi dengan ekosistem dan tata kelola adaptif, solusi yang ada hanya menjadi proyek berulang tanpa keberlanjutan,” ujarnya.

Solusi: Infrastruktur Hybrid dan Teknologi Cerdas

BRIN menawarkan pendekatan baru berbasis sains terintegrasi melalui pengembangan infrastruktur hybrid—kombinasi antara rekayasa teknik dan solusi berbasis alam.

Pendekatan ini mencakup: Tanggul adaptif dan struktur permeabel, Rehabilitasi mangrove dan restorasi ekosistem, Sistem observasi pesisir berbasis sensor hingga Kecerdasan buatan untuk prediksi banjir rob.

Pasar Karbon Indonesia Tersendat, Kehutanan Gagal Jadi Motor Utama

Model ini terbukti mampu: Menekan abrasi hingga 60–70%, Menstabilkan garis pantai dan Meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

Tak hanya itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) memungkinkan prediksi banjir rob hingga 24–48 jam ke depan secara real-time, sehingga respons kebijakan menjadi lebih cepat dan akurat.

Energi Laut: Kunci Adaptasi Berkelanjutan

Indonesia juga memiliki potensi besar energi laut dari arus, gelombang, dan perbedaan suhu laut. Energi ini dapat menopang sistem adaptasi pesisir seperti sensor, pompa, dan sistem peringatan dini tanpa bergantung pada energi fosil.

Implementasinya tidak hanya menekan emisi karbon, tetapi juga mendorong lahirnya green port dan ekonomi maritim berkelanjutan.

Taruhan Besar: Ketahanan Maritim Nasional

Penguatan pesisir bukan sekadar urusan lingkungan, tetapi menyangkut masa depan ekonomi dan keamanan nasional. Gangguan di pesisir berarti terganggunya distribusi logistik, meningkatnya risiko terhadap aset strategis, dan melemahnya daya saing maritim Indonesia.

Krisis DAS di Indonesia: Solusi Regeneratif Jadi Harapan Baru

Melalui integrasi teknologi, data, dan ekosistem, BRIN menegaskan bahwa adaptasi pesisir harus berbasis risiko dan bukti ilmiah—bukan lagi sekadar respons darurat.

“Inovasi infrastruktur hybrid, AI prediktif, dan sistem data terpadu akan meningkatkan keselamatan, efisiensi logistik, serta ketahanan maritim nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *