Site icon Tropis.id

Dunia Memanas di Musim Semi 2026: La Niña Melemah, Risiko Iklim Mengintai

Peta sebaran pemanasan global dan La Nina. Foto NASA

GENEWA – Laporan terbaru dari World Meteorological Organization (WMO) yang dirilis pada 20 Februari 2026 memperingatkan bahwa periode Maret–April–Mei (MAM) 2026 akan ditandai oleh anomali suhu global di atas normal, meskipun fenomena La Niña lemah mulai mereda menuju kondisi ENSO-netral.

Namun, transisi ini bukan berarti dunia terbebas dari risiko. Sebaliknya, kombinasi pemanasan laut global dan respons atmosfer yang masih “beraroma La Niña” berpotensi memicu pola cuaca ekstrem di berbagai kawasan.

Dinamika Samudra: La Niña Melemah, Tapi Gradien Suhu Bertahan

Pada periode November 2025–Januari 2026, suhu permukaan laut (SST) global tetap berada di atas rata-rata, terutama di wilayah ekstratropis kedua belahan bumi.

Di Pasifik ekuatorial timur, indeks Niño masih berada dalam kategori La Niña lemah, meski tanpa penguatan signifikan. Model prakiraan menunjukkan:

– Anomali suhu dingin di Pasifik tengah dan timur akan melemah
– Sistem ENSO bergerak menuju kondisi netral
– Namun, gradien suhu timur–barat tetap cukup kuat untuk mempertahankan respons atmosfer khas La Niña

Asia Selatan Terpanggang Suhu 50°C, Kematian Tembus 200 Ribu per Tahun

Di Samudra Hindia, Indian Ocean Dipole (IOD) yang sebelumnya negatif mulai melemah ke kondisi netral. Sementara itu, Samudra Atlantik—baik wilayah tropis utara (NTA) maupun selatan (STA)—tetap lebih hangat dari normal, melanjutkan tren pemanasan musim sebelumnya.

Outlook Suhu Global MAM 2026: Sinyal Pemanasan Menguat

Prakiraan multi-model menunjukkan sinyal kuat suhu daratan di atas normal secara global.

Wilayah dengan probabilitas pemanasan tinggi:

– Amerika Utara bagian selatan
– Amerika Tengah & Karibia
– Afrika ekuatorial
Maritime Continent (termasuk Indonesia)
– Sebagian besar Pasifik Utara & Selatan
– Samudra Hindia ekuatorial

Belahan bumi utara lintang menengah (30°LU–60°LU) menunjukkan konsistensi model yang tinggi untuk kondisi lebih panas dari normal.

Korupsi Timah dan Ekosida Bangka: Negara Rugi Rp4,16 Triliun, Ekologi Hancur Total

Sebaliknya:

– Eropa, Afrika Utara, dan Asia Barat menunjukkan sinyal moderat
– Barat laut Amerika Utara tidak memiliki konsensus model yang kuat
– Sebagian Australia dan Afrika bagian selatan hanya menunjukkan peningkatan probabilitas yang lemah

Yang menarik, di Pasifik ekuatorial timur (sebelah timur Date Line), peluang suhu mendekati normal meningkat—indikasi bahwa sistem laut–atmosfer benar-benar menuju fase netral.

Prakiraan Curah Hujan: Pola La Niña Masih Bertahan

Walau La Niña melemah, pola hujan global masih menunjukkan karakteristik La Niña.

Pasifik Tropis:

– Area luas di selatan ekuator (170°BT–120°BB) diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal
– Sisi timur Maritime Continent berpeluang lebih kering
– Jalur 15°LU dari Laut Filipina ke 150°BB berpotensi lebih basah dari normal
– Jalur ekuatorial Pasifik timur cenderung normal

Bencana Tanah Bergerak Hancurkan 900 Rumah di Tegal, Kehidupan Warga Lumpuh

Di luar Pasifik:

– Atlantik ekuatorial: probabilitas hujan di bawah normal
– Barat laut Amerika Utara, anak benua India, dan Asia utara: potensi hujan di atas normal
– Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa: sinyal lemah dan ketidakpastian tinggi

Musim transisi boreal spring memang dikenal sebagai periode dengan ketidakpastian prediksi lebih besar, terutama dalam sistem ENSO.

Apa Artinya bagi Dunia?

Meskipun ENSO bergerak ke netral, pemanasan laut global yang luas tetap menjadi faktor dominan. Ini berarti:

– Risiko gelombang panas tetap tinggi di banyak wilayah
– Variabilitas hujan meningkat
– Ketidakpastian iklim pada musim transisi lebih besar
– Negara tropis perlu mewaspadai potensi kekeringan regional

Dengan baseline klimatologi 1993–2009 sebagai pembanding, sinyal anomali positif suhu kini menjadi semakin konsisten lintas model.

Dunia Menuju ENSO Netral, Tapi Panas Tak Surut

Musim Maret–Mei 2026 bukanlah musim yang “tenang”. Dunia memang bergerak keluar dari La Niña lemah, tetapi pemanasan global jangka panjang tetap mendominasi pola suhu permukaan dan atmosfer.

Dalam konteks perubahan iklim global, setiap musim transisi kini membawa dinamika baru—dan risiko baru. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version