Riset
Beranda / Riset / Gawat! Mikroplastik Mengendap hingga 2,4 Km di Dasar Laut Indonesia

Gawat! Mikroplastik Mengendap hingga 2,4 Km di Dasar Laut Indonesia

Mikroplastik Mengendap hingga 2,4 Km di Dasar Laut Indonesia. Arsip

JAKARTA — Ancaman mikroplastik ternyata jauh lebih serius dari yang selama ini dibayangkan.

Penelitian terbaru menemukan partikel plastik berukuran sangat kecil telah mencapai kedalaman hingga sekitar 2.450 meter di laut Indonesia, dan berpotensi masuk ke rantai makanan laut hingga akhirnya dikonsumsi manusia.

Temuan ini diungkap dalam penelitian ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional Marine Pollution Bulletin berjudul Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways (2024).

Riset tersebut dilakukan oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Corry Yanti Manullang, bersama tim kolaborasi internasional dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan China.

Penelitian menemukan mikroplastik menyebar di jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo)—sistem arus laut strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui wilayah perairan Indonesia.

Bencana Banjir Lahar Merapi: 3 Warga Tewas, 2 Masih Hilang

“Arlindo tidak hanya membawa massa air, garam, dan nutrien, tetapi juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” ujar Corry Kamis (5/3/2026).

Arus laut ini melewati sejumlah selat penting di Indonesia, seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok, yang menjadi jalur utama pertukaran massa air antar-samudra.

Mikroplastik Terdeteksi hingga Laut Dalam

Penelitian dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari hingga April 2021 dalam program kolaborasi internasional TRIUMPH. Pengambilan sampel dilakukan di 11 stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok.

Tim peneliti mengambil 92 sampel kolom air dari berbagai kedalaman, mulai dari 5 meter hingga sekitar 2.450 meter, menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (Conductivity, Temperature, Depth).

Dari 872 liter air laut yang dianalisis, para peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik dengan rata-rata konsentrasi sekitar 1,062 partikel per liter.

Topan Pembunuh “Melissa” Dihapus dari Sejarah, Kenapa?

Yang mengkhawatirkan, mikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer di bawah permukaan laut.

Lebih dari 90 persen mikroplastik berbentuk serat (fiber) yang umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.

“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” jelas Corry.

Analisis spektroskopi Raman juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik seperti polyester, polypropylene, dan polyurethane, yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, hingga bahan industri.

Temuan ini menunjukkan bahwa laut dalam berpotensi menjadi lokasi akumulasi mikroplastik, karena arus Arlindo cukup kuat untuk membawa partikel plastik ke berbagai lapisan laut.

14 Spesies Burung Papua Kini Terancam Punah

Dari Plankton hingga Makanan Manusia

Penelitian lanjutan yang dipublikasikan dalam jurnal Sains Malaysiana juga menemukan mikroplastik telah masuk ke tubuh zooplankton kecil bernama kopepoda di jalur Arlindo.

Kopepoda merupakan organisme mikroskopis yang sangat melimpah di laut dan menjadi makanan utama berbagai jenis ikan.

Dalam penelitian tersebut, sekitar 6.000 individu kopepoda dianalisis. Hasilnya, peneliti menemukan 133 partikel mikroplastik di dalam tubuh organisme tersebut.

Rata-rata tingkat konsumsi mikroplastik tercatat sekitar 0,022 partikel per individu, atau sekitar satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.

“Kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan,” kata Corry.

Penelitian juga menunjukkan kopepoda berukuran lebih besar cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik.

Masuknya mikroplastik ke tubuh organisme kecil ini menjadi perhatian serius karena kopepoda merupakan mata rantai awal dalam rantai makanan laut.

“Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia,” ujarnya.

Ancaman yang Mengendap di Laut Indonesia

Menurut Corry, penelitian mengenai mikroplastik di laut Indonesia masih perlu terus dikembangkan, terutama di wilayah laut dalam.

Padahal sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter, sehingga ekosistem tersebut masih relatif jarang diteliti.

“Fakta bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir. Ini sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan,” kata Corry.

Ia berharap temuan ini dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan mengenai pergerakan mikroplastik di laut dalam serta dampaknya terhadap organisme laut dan kesehatan manusia, sekaligus memperkuat upaya pengelolaan sampah plastik dan perlindungan ekosistem laut Indonesia. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *