Site icon Tropis.id

Gunung, Hutan, Laut: Tren Wisata Alam yang Bakal Mengubah Indonesia Tahun ini

Pulau Macan, destinasi untuk Eco-Friendly Tourism. Disini wisatawan bisa belajar konservasi laut sambil menikmati liburan yang nyaman dan menyenangkan. Arsip

JAKARTA – Indonesia diprediksi akan menjadi surga wisata alam global di 2026.

Dari pegunungan, hutan, hingga lautan, tren pariwisata kini bergerak ke pengalaman yang lebih bertanggung jawab, personal, dan bernilai, tidak hanya berfoto di destinasi populer.

Laporan Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 oleh Kementerian Pariwisata RI menyoroti tren wisata alam sebagai motor utama transformasi pariwisata, dengan analisis yang dilakukan melalui literatur, survei ahli, dan diskusi kelompok terpumpun.

1. Nature & Adventure-Based Tourism: Petualangan Ekstrem Menjadi Daya Tarik Utama

Wisata alam kini tidak sebatas hiking atau snorkeling biasa. Wisatawan mencari pengalaman yang lebih spesifik:

– Mendaki gunung api aktif (geotourism)
– Susur gua (caving)
– Menyelam di laut dalam (scuba diving) termasuk tinggal di atas kapal (live on board)

Indonesia Butuh Role Model Wisata Hijau

Contoh sukses di Indonesia termasuk Taman Nasional Gunung Rinjani, dengan jalur pendakian yang dikelola secara partisipatif: zero waste, penanaman pohon, dan pembersihan jalur bersama warga lokal.

Di Bali, Ceningan Divers menerapkan standar lingkungan Green Fins, memastikan kegiatan menyelam tetap ramah lingkungan sekaligus menantang.

2. Eco-Friendly Tourism: Alam Dilindungi, Wisata Tetap Menyenangkan

Kesadaran lingkungan semakin mendorong wisatawan memilih destinasi dengan konservasi dan pengelolaan ekosistem yang ketat.

Pulau dan taman nasional mengurangi sampah plastik, menggunakan energi terbarukan, dan menyediakan fasilitas ramah lingkungan.

Aktivitas wisata fokus pada pemulihan ekosistem: penanaman terumbu karang, konservasi satwa, dan restorasi hutan mangrove.

Peta Pariwisata Asia Bergeser, Phu Quoc Naik Kelas dan Menantang Dominasi Bali

Pulau Macan menjadi contoh cemerlang: wisatawan bisa belajar konservasi laut sambil menikmati liburan yang nyaman dan menyenangkan.

3. Cultural Immersion Alam: Terhubung dengan Budaya di Tengah Alam

Wisata alam tak hanya soal fisik. Desa wisata yang menggabungkan alam dan budaya kini diminati:

– Trekking ke desa adat
– Menginap di homestay di tengah hutan atau perbukitan
– Belajar tradisi lokal sambil menikmati alam

Contohnya, Desa Adat Wae Rebo, di mana wisatawan trekking perbukitan, disambut ritual adat, belajar menenun, memanen kopi, sekaligus merasakan filosofi hidup masyarakat lokal.

4. Tren Petualangan Laut: Menyelam & Liveaboard Jadi Primadona

Indonesia dengan terumbu karang dan laut tropis menjadi magnet wisatawan global.

Gerakan Wisata Bersih di Kota Tua Jakarta untuk Pariwisata Berkelanjutan

Scuba diving dan snorkeling di kawasan seperti Bali, Raja Ampat, dan Sulawesi Tengah.

Liveaboard memungkinkan wisatawan tinggal di atas kapal, menjelajahi pulau-pulau terpencil.

Kombinasi petualangan ekstrem dan kesadaran lingkungan menjadikan wisata laut lebih dari sekadar rekreasi—tetapi juga edukasi konservasi.

Alam Indonesia Siap Jadi Magnet Global 2026

Tren wisata alam di Indonesia menegaskan satu hal: wisatawan global dan domestik kini mencari pengalaman yang menantang, autentik, dan bertanggung jawab terhadap alam.

Dengan bentang alam yang luar biasa—gunung, hutan, dan laut—Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pemain utama pariwisata alam dunia.

Pertanyaannya: apakah destinasi kita siap menampung gelombang wisatawan yang mencari pengalaman ekstrem sekaligus ramah lingkungan ini? (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version