SERPONG – Energi hidrogen—khususnya hidrogen hijau—mengemuka sebagai salah satu penentu arah masa depan sistem energi rendah karbon.
Isu ini menjadi sorotan utama dalam sesi keynote speaker hari kedua International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA) 2026 yang digelar Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Hotel Trembesi BSD, Serpong, Rabu (4/2/2026).
Permintaan Hidrogen Global Terus Naik hingga 2050
Akademisi National Cheng Kung University (NCKU), Taiwan, Ta-Hui Lin, menegaskan bahwa hidrogen memainkan peran strategis dalam peta transisi energi global.
Berbagai laporan internasional memproyeksikan permintaan hidrogen akan terus melonjak hingga 2050, terutama untuk menopang sektor industri berat dan transportasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa kontribusi aplikasi baru hidrogen terhadap total permintaan energi global masih tergolong kecil.
“Ini menandakan perlunya percepatan riset, inovasi teknologi, serta dukungan kebijakan yang lebih kuat,” ujar Ta-Hui Lin.
Menurutnya, hidrogen hijau merupakan opsi paling berkelanjutan untuk masa depan energi dunia.
Produksi hidrogen berbasis energi terbarukan dinilai krusial untuk menekan emisi karbon secara signifikan.
“Riset lanjutan pada teknologi produksi dan pemanfaatan hidrogen hijau menjadi kunci untuk mencapai target netralitas karbon global,” tegasnya.
Terobosan Teknologi Hidrogen yang Lebih Aman dan Efisien
Dari sisi teknologi, Hong Shik Lee dari Korea Institute of Industrial Technology (KITECH) memaparkan terobosan pengolahan energi berbasis hidrogen yang lebih aman dan efisien. Teknologi ini dirancang untuk menggantikan proses deoksigenasi konvensional yang selama ini bergantung pada kondisi berisiko tinggi.
Ia menjelaskan, pemanfaatan air memungkinkan proses reaksi dan pemisahan produk berlangsung secara simultan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga keselamatan proses industri.
“Melalui proses hidrotermal berbasis air, penghilangan oksigen dapat dilakukan tanpa kondisi kering maupun bahan berbahaya,” kata Lee.
Pendekatan serupa disampaikan Tegoeh Tjahjowidodo dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia.
Ia menawarkan metode deoksigenasi alternatif melalui reaksi hidrotermal dan hidrosolvolisis berbasis air. Keunggulan utama metode ini terletak pada integrasi reaksi dan pemisahan produk dalam satu sistem terpadu.
Ia menambahkan, pengembangan pemurnian hibrida serta pemanfaatan CO₂ superkritis sebagai media proses membuka peluang penerapan teknologi hidrogen yang lebih luas di sektor industri.
Dalam jangka pendek, riset difokuskan untuk mendukung transisi menuju sistem energi dan proses industri yang lebih bersih serta berkelanjutan.
Manufaktur Hijau Dukung Efisiensi Energi Industri
Selain hidrogen, konferensi ini juga menyoroti peran manufaktur hijau sebagai penopang transisi energi.
Ahmad Razlan dari Universiti Malaysia Pahang menekankan pentingnya integrasi keberlanjutan dan kecerdasan buatan dalam sistem manufaktur modern.
“Teknologi seperti nano-coolant, pembelajaran mesin, dan pemeliharaan prediktif terbukti mampu menurunkan konsumsi energi, memperpanjang umur peralatan, serta menekan biaya produksi,” ujarnya.
Sementara itu, Muhamad Al’Hapis dari Universiti Kuala Lumpur Malaysian Spanish Institute mengangkat potensi pemanfaatan limbah industri dan pertanian sebagai material ramah lingkungan.
Limbah tandan kosong sawit dan bulu ayam, menurutnya, berpeluang dikembangkan menjadi material komposit bernilai tambah.
“Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memperkuat prinsip ekonomi sirkular dan daya saing industri hijau,” kata Al’Hapis.
ICSEEA 2026 Dorong Riset Hidrogen dan Energi Bersih
ICSEEA 2026 menjadi ruang strategis pertukaran gagasan dan temuan riset terkini di bidang energi dan manufaktur berkelanjutan.
Paparan para peneliti dari berbagai negara menegaskan bahwa hidrogen hijau dan inovasi teknologi industri akan menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan transisi energi global. (AT Network)


Komentar