Riset
Beranda / Riset / Ilmuwan Ungkap Rahasia Evolusi Alam Semesta

Ilmuwan Ungkap Rahasia Evolusi Alam Semesta

Gugusan bintang dan Galaksi. Ilustrasi

BANDUNG – Dunia astronomi kini memasuki era baru yang lebih tajam dan radikal.

Para ilmuwan tak lagi sekadar mengamati galaksi dari kejauhan, tetapi mulai “membedah” bagian dalamnya hingga skala terkecil untuk mengungkap rahasia evolusi alam semesta.

Periset Indiana University, Abdurro’uf, mengungkapkan bahwa fokus riset global kini bergeser ke analisis internal galaksi dengan resolusi sangat tinggi—hingga skala kiloparsec dan parsec. Pendekatan ini membuka cara baru memahami bagaimana galaksi lahir, tumbuh, dan berevolusi sejak awal waktu kosmik.

Paparan tersebut disampaikan dalam Kolokium Mingguan Riset Antariksa (LINEAR) yang digelar secara hybrid di BRIN KST Samaun Samadikun, Bandung, Selasa (31/3/2026), dengan topik “Spatially Resolved View of Galaxy Evolution Across Cosmic Time”.

Teknologi Canggih Bongkar “Isi Dalam” Galaksi

Dalam riset mutakhirnya, Abdurro’uf memanfaatkan data teleskop luar angkasa seperti Hubble Space Telescope (HST) dan James Webb Space Telescope (JWST). Melalui pendekatan Spatially Resolved SED Fitting, ia mampu mengurai struktur galaksi secara detail—mulai dari massa bintang, kandungan debu, hingga laju pembentukan bintang.

Langit Indonesia Dihujani Sampah Antariksa

Namun, mahalnya metode Integral Field Spectroscopy (IFS) menjadi tantangan besar. Untuk itu, ia mengembangkan PiXedFit, perangkat lunak inovatif yang mampu merekonstruksi distribusi energi galaksi secara spasial tanpa bergantung pada instrumen mahal.

“PiXedFit memungkinkan kita membaca ‘DNA’ galaksi secara efisien,” jelasnya.

Terungkap: Galaksi Tumbuh dari Dalam ke Luar

Salah satu temuan penting dari riset ini adalah konfirmasi teori Inside-Out Growth. Artinya, galaksi masif membangun inti pusatnya (bulge) lebih dulu melalui pembentukan bintang yang intens, sebelum kemudian mengembangkan bagian luar (disk) secara bertahap.

Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa struktur galaksi tidak terbentuk secara acak, melainkan mengikuti pola evolusi yang sistematis dan terukur.

“Cosmic Spear”: Jejak Galaksi Purba yang Mengguncang

Penelitian ini juga mengungkap penemuan spektakuler: galaksi purba pada redshift 6,2 yang dijuluki “Cosmic Spear.” Dengan bantuan JWST dan fenomena lensa gravitasi, galaksi ini tampak berlipat ganda dalam pola simetri cermin.

Perubahan Iklim Memutus Regenerasi Petani di Asia

Di dalamnya, ilmuwan menemukan gugus bintang super padat dengan massa hingga jutaan kali Matahari, namun masih sangat muda—berusia hanya 5–9 juta tahun.

Fenomena ini memberi gambaran langka tentang bagaimana struktur awal galaksi terbentuk di alam semesta dini.

AI dan Simulasi: Masa Depan Astronomi Dimulai

Untuk menjembatani teori dan observasi, diperkenalkan pula GALSIN, perangkat lunak forward modeling yang mampu mengubah simulasi menjadi data observasi sintetis yang menyerupai hasil teleskop nyata.

Tak hanya itu, data sintetis ini juga menjadi “bahan bakar” bagi pengembangan kecerdasan buatan (machine learning) dalam mengidentifikasi pola evolusi galaksi di masa depan.

BRIN: Sains Antariksa untuk Masa Depan

Moderator kegiatan, Gerhana Puannandra Putri dari Pusat Riset Antariksa BRIN, menegaskan bahwa evolusi galaksi mencakup proses kompleks—dari merger, akresi gas, hingga pembentukan struktur internal seperti bulge dan disk.

Mengapa Pemulihan Pascabencana di Indonesia Selalu Rumit?

Sementara itu, Plh. Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Asnawi, berharap forum ini menjadi titik temu strategis bagi kolaborasi ilmiah lintas institusi, baik nasional maupun internasional.

“Dari forum seperti ini, lahir ide-ide besar yang bisa mengubah masa depan teknologi dan pemahaman manusia tentang alam semesta,” pungkasnya. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *