JAKARTA – Pemerintah mendorong percepatan pembangunan 34 fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WtE) sebagai langkah strategis menghadapi darurat sampah nasional.
Proyek ini diproyeksikan beroperasi penuh pada 2028, sekaligus membuka peluang green jobs besar-besaran di sektor energi bersih dan pengelolaan lingkungan.
Krisis sampah di Indonesia memang semakin mendesak. Dari sekitar 56,89 juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahun di 512 kabupaten/kota, sekitar 66,26 persen di antaranya masih belum terkelola secara optimal.
Kondisi ini mendorong pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern berbasis energi.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan potensi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Indonesia bisa mencapai 2.066 megawatt (MW). Namun hingga saat ini, kapasitas pembangkit yang sudah terpasang masih sangat kecil.
Menurut Professional Consultant of Environmental Engineering, Dewi Dwirianti, sektor ini akan menjadi ladang pekerjaan baru dalam beberapa tahun ke depan.
“Outlook lima sampai sepuluh tahun ke depan akan ada banyak proyek PLTSa. Artinya kebutuhan tenaga kerja di sektor energi akan meningkat dan muncul banyak green jobs di bidang waste to energy,” ujarnya dalam webinar Berkarier di PLTSa: Peluang Kerja di Industri Waste to Energy belum lama ini.
Teknologi yang Digunakan dalam Proyek Waste to Energy
Pengolahan sampah menjadi energi dilakukan melalui beberapa teknologi utama, antara lain:
– Insinerator (konversi termal)
– Teknologi yang paling umum digunakan pada pembangkit listrik tenaga sampah.
– Gasifikasi
Teknologi konversi termal lanjutan yang mengubah sampah menjadi gas sintetis. Salah satu contoh penerapannya terdapat pada PLTSa Benowo di Surabaya dengan kapasitas sekitar 9 MW.
– Refuse Derived Fuel (RDF)
Teknologi yang mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk co-firing di industri semen maupun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
– Anaerobic Digestion
Teknologi yang mengolah sampah organik menjadi biogas melalui proses biologis tanpa oksigen.
Peluang Green Jobs di Industri PLTSa
Seiring berkembangnya proyek WtE, kebutuhan tenaga kerja akan muncul dalam berbagai tahapan proyek, mulai dari perencanaan hingga operasional.
1. Planning dan Feasibility
Profesi yang dibutuhkan antara lain:
Civil Engineer
Mechanical Engineer
Electrical Engineer
Instrumentation Engineer
Process Engineer
Waste Management Specialist
Infrastructure Planner
Environmental Engineer
AMDAL/EIA Specialist
Project Finance Analyst
Legal & Regulatory Specialist
2. Engineering dan Construction
Tahap pembangunan fasilitas membutuhkan:
Project Manager
Construction Manager
EPC Engineer
HSE Officer
Environmental Compliance Specialist
3. Plant Operation
Setelah pembangkit beroperasi, kebutuhan tenaga kerja meliputi:
Plant Operator
Control Room Operator
Emission Monitoring Specialist
Environmental Monitoring Officer
Supply Chain & Procurement Specialist
Financial Manager
Public Relations & Community Engagement Officer
Latar Belakang Pendidikan yang Dibutuhkan
Karier di industri waste to energy tidak terbatas pada satu disiplin ilmu.
Menurut Dewi, sektor ini membutuhkan kolaborasi lintas bidang, antara teknologi, lingkungan, energi, hingga kebijakan.
Beberapa bidang pendidikan yang relevan antara lain:
Lingkungan: Teknik lingkungan, ilmu lingkungan, pengelolaan sumber daya alam
Sistem energi: Teknik elektro, teknik fisika, teknik instrumentasi
Engineering: Teknik mesin, teknik kimia, teknik material, teknik industri
Bisnis dan kebijakan: Ekonomi, akuntansi, hukum, hubungan internasional
Bahkan, bidang ilmu komunikasi juga dinilai penting untuk mendukung komunikasi publik dan keterlibatan masyarakat dalam proyek energi berbasis pengelolaan sampah.
Krisis Sampah Berubah Jadi Peluang Ekonomi Hijau
Pembangunan 34 proyek waste to energy bukan hanya solusi teknis untuk mengurangi timbunan sampah nasional. Lebih dari itu, langkah ini juga berpotensi mempercepat transisi menuju ekonomi hijau, sekaligus menciptakan ekosistem pekerjaan baru di sektor energi bersih.
Jika proyek-proyek tersebut berjalan sesuai rencana hingga 2028, Indonesia tidak hanya mengurangi krisis sampah, tetapi juga membuka jalan bagi generasi baru pekerja energi hijau yang akan menjadi tulang punggung ekonomi berkelanjutan di masa depan. (TR Network)


Komentar