News
Beranda / News / Indonesia Gandeng Korea Atasi Kebakaran Hutan

Indonesia Gandeng Korea Atasi Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla) di Riau. Arsip

JAKARTA – Pemerintah Indonesia mulai menunjukkan sinyal kewaspadaan serius terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan yang diprediksi meningkat pada 2026.

Dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan, Kementerian Kehutanan Indonesia resmi menjalin kerja sama strategis dengan Korea Selatan—langkah yang tak sekadar diplomasi, tetapi juga respons terhadap potensi krisis ekologis yang membayangi.

Di Seoul, Menteri Kehutanan Indonesia Raja Juli Antoni bersama Menteri Korea Forest Service (KFS) Park Eunsik menandatangani dua dokumen penting yang menjadi fondasi kolaborasi jangka panjang di sektor kehutanan.

Dua Kesepakatan Selamatkan Hutan

Kerja sama ini mencakup dua pilar utama:

– Kerangka kerja strategis kehutanan: fokus pada pengelolaan hutan berkelanjutan, rehabilitasi mangrove dan gambut, pengembangan ekowisata, hingga penguatan pasar karbon.

Indonesia Targetkan 1,4 Juta Hektar Hutan Adat untuk Perkuat Aksi Iklim

– MoU penanganan kebakaran hutan: mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, respons cepat, hingga pemulihan pascakebakaran, termasuk penggunaan teknologi mutakhir seperti pemantauan satelit.

Langkah ini mempertegas bahwa isu kebakaran hutan bukan lagi persoalan domestik, melainkan ancaman global yang membutuhkan kolaborasi lintas negara.

Korea Siap Kerahkan Armada dan Teknologi

Korea Selatan bukan mitra sembarangan. Negara ini telah mengoperasikan: 55 helikopter khusus pemadam kebakaran, Tambahan 250 unit helikopter pendukung dan Lebih dari 10.000 personel gabungan.

Tak hanya itu, Korea juga bersiap meluncurkan satelit pemantau kebakaran hutan pada September 2026 yang mampu menjangkau hingga 55% wilayah Indonesia secara real-time.

Ini menjadi game changer dalam deteksi dini dan respons cepat terhadap titik api—sesuatu yang selama ini menjadi titik lemah Indonesia.

DPR Desak Audit Lingkungan PLTU Pangkalan Susu: Emisi dan Limbah Harus Terbuka

El Nino Mengintai, Indonesia Tak Bisa Lagi Reaktif

Pemerintah menyadari bahwa fenomena El Nino yang diproyeksikan terjadi pada pertengahan 2026 bisa memicu lonjakan kebakaran hutan besar-besaran. Karena itu, kerja sama ini dinilai sangat krusial untuk memperkuat sistem mitigasi nasional.

Menteri Park menegaskan, dukungan teknologi dan pengalaman Korea akan membantu Indonesia beralih dari pola reaktif menjadi preventif dalam menangani kebakaran hutan.

Kolaborasi ini bukan hal baru. Indonesia dan Korea Selatan telah menjalin kemitraan kehutanan selama lebih dari 40 tahun. Namun, kesepakatan terbaru ini menandai fase baru: dari kerja sama biasa menuju aliansi strategis menghadapi krisis iklim.

Ke depan, implementasi kerja sama akan dilakukan melalui:

– Pertukaran teknologi dan pengetahuan
– Pengembangan proyek bersama
– Pelatihan SDM kehutanan
– Pembentukan Joint Consultation Committee

Pasca Gempa 7,6 di Sulut-Malut, Prabowo Instruksikan Aksi Darurat Nasional

Langkah menggandeng Korea menunjukkan keseriusan pemerintah. Namun, pertanyaan besarnya: apakah kesiapan di lapangan akan secepat kesepakatan di atas kertas?

Jika tidak diiringi pengawasan ketat dan eksekusi nyata, kerja sama ini berisiko menjadi sekadar simbol—di tengah ancaman kebakaran hutan yang kian nyata dan mendesak. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *