JAKARTA – Ancaman krisis iklim yang kian ekstrem, ditambah ketegangan geopolitik global antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kini menjadi alarm keras bagi Indonesia: ketahanan pangan nasional hadapi resiko besar.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan, sudah saatnya Indonesia berhenti bergantung pada pangan impor dan mulai mengandalkan kekuatan pangan lokal sebagai tameng utama menghadapi krisis global.
Sinyal bahaya itu bukan sekadar teori. Banjir bandang yang melanda Sumatera pada November 2025 lalu menjadi bukti nyata. Wilayah terisolasi seperti Kabupaten Gayo Lues bahkan harus bertahan hidup selama berminggu-minggu dengan mengandalkan pisang sebagai sumber makanan utama.
Direktur Pengendali Kerawanan Pangan Bapanas, Sri Nuryanti, mengungkapkan bahwa dalam kondisi darurat, pangan lokal justru terbukti paling tangguh.
“Masyarakat yang terisolasi dua sampai tiga minggu itu bertahan hidup dengan pisang,” ujarnya dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem, Senin (30/3/2026).
Pisang hingga Sagu: ‘Senjata’ yang Terlupakan
Bapanas kini mendorong agar komoditas seperti pisang tidak lagi dipandang sebelah mata. Bahkan, pisang diusulkan masuk dalam perhitungan resmi produksi pangan nasional karena kandungan karbohidratnya yang signifikan.
Lebih luas, pemerintah menekankan pentingnya diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal—mulai dari sagu, singkong, hingga berbagai umbi-umbian—sebagai fondasi kedaulatan pangan, baik di tingkat rumah tangga maupun nasional.
Namun tantangannya tidak kecil.
Selera masyarakat Indonesia telah lama bergeser ke pangan berbasis impor seperti gandum. Akibatnya, banyak generasi muda yang bahkan tidak lagi mengenal makanan tradisional seperti papeda atau kapurung.
“Anak-anak sekarang sudah lupa makan papeda, bahkan merasa geli melihatnya,” ungkap Sri.
Krisis Global Bisa Picu Kelangkaan Pangan
Ketegangan geopolitik global juga memperburuk situasi. Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi dunia, yang berdampak langsung pada distribusi dan harga pangan.
Kelangkaan BBM akibat konflik bisa memicu lonjakan biaya logistik, memperparah risiko krisis pangan di dalam negeri.
Ironisnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor gandum. Sekitar 20 persen devisa negara tersedot hanya untuk membeli gandum, sebuah kondisi yang dinilai sangat rentan di tengah gejolak global.
Mengubah Selera, Mengubah Masa Depan
Untuk mengatasi hal ini, Bapanas menggandeng Indonesia Chef Association guna mengolah pangan lokal menjadi menu modern yang lebih diterima generasi muda—seperti burger berbahan ubi ungu hingga mi berbasis mocaf (modified cassava flour).
Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan pasar baru bagi pangan lokal, sekaligus mengubah persepsi masyarakat.
Namun, perubahan ini tidak instan.
Sri memperkirakan, butuh waktu hingga satu abad untuk mengembalikan dominasi pangan lokal seperti sagu dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia.
Saatnya Berdaulat Pangan atau Terjebak Krisis
Di tengah ancaman krisis iklim dan konflik global, pilihan Indonesia semakin jelas: berdaulat dengan pangan lokal atau terus terjebak dalam ketergantungan impor yang rapuh.
Seruan pun digaungkan:
“Jangan bangga makan terigu. Mari kembali ke pangan lokal agar ekonomi kita tidak tergerus,” tegas Sri.
Krisis sudah di depan mata. Pertanyaannya kini, apakah Indonesia siap berubah sebelum semuanya terlambat? (TR Network)

Komentar