YOGYAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa Indonesia kini semakin rentan terhadap ancaman siklon tropis.
Hasil riset terbaru menunjukkan intensitas badai semakin kuat dan wilayah pembentukannya mulai bergeser lebih dekat ke kawasan Indonesia akibat perubahan iklim dan suhu laut yang terus menghangat.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, mengungkapkan bahwa selama ini Indonesia dianggap relatif aman dari siklon tropis karena posisinya yang dekat dengan garis khatulistiwa. Namun kondisi tersebut kini mulai berubah.
“Indonesia bukan lagi wilayah yang aman dari siklon. Suhu laut yang semakin hangat membuat peluang terbentuknya siklon semakin besar, bahkan lebih dekat ke wilayah kita,” kata Yosef, Kamis (5/3/2026).
Berdasarkan analisis data periode 1990–2023, tercatat ratusan siklon terbentuk di wilayah selatan Indonesia.
Yang mengejutkan, puluhan di antaranya justru muncul di dalam wilayah perairan Indonesia sendiri. Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran pola pembentukan siklon yang perlu diwaspadai.
Fenomena ini bukan sekadar teori. Siklon Seroja pada 2021 menjadi bukti nyata dampak siklon tropis di Indonesia. Badai tersebut memicu hujan ekstrem, banjir bandang, kerusakan besar, hingga menimbulkan korban jiwa di sejumlah wilayah.
Riset BRIN juga menemukan bahwa kombinasi berbagai faktor cuaca global dan suhu laut yang lebih hangat membuat cuaca ekstrem lebih mudah terbentuk dan bertahan lebih lama.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, BRIN bersama BMKG kini mengembangkan sistem prediksi siklon berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini dirancang untuk memprediksi potensi pembentukan siklon beberapa hari sebelum terjadi, sehingga pemerintah dan masyarakat memiliki waktu lebih panjang untuk melakukan antisipasi.
“Kami di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer mengembangkan model prediksi yang dapat membuat sistem peringatan dini lebih akurat. Dengan informasi yang cepat dan tepat, risiko korban dapat ditekan,” ujar Yosef.
Selain penguatan teknologi, BRIN juga menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur dan peningkatan literasi masyarakat terhadap informasi cuaca.
Langkah adaptasi yang didorong antara lain pembangunan bangunan tahan angin, penguatan sistem drainase, serta rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami sistem peringatan dini serta mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika cuaca ekstrem terjadi.
“Mitigasi tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat. Semakin siap kita hari ini, semakin kecil risiko di masa depan,” tegas Yosef. (TR Network)
