WASHINGTON — Bank Dunia resmi menyetujui pembiayaan senilai $370 juta untuk meningkatkan layanan sanitasi dan pengelolaan sampah di Dhaka, guna menekan polusi air yang mengancam kesehatan dan ekonomi kota.
Program Metro Dhaka Water Security and Resilience Program akan memperkuat kapasitas lembaga lokal dan nasional untuk memulihkan sungai dan kanal Dhaka, kota yang menyumbang sekitar setengah lapangan kerja formal dan sepertiga Produk Domestik Bruto Bangladesh.
Target Program: Sanitasi dan Pengelolaan Sampah
Program ini memperkenalkan sistem berbasis hasil untuk membantu kota dan Water Supply and Sewerage Authority (WASA) memberikan perbaikan nyata di lapangan. Targetnya termasuk menyediakan layanan sanitasi aman bagi 550.000 penduduk dan pengelolaan sampah yang lebih baik bagi 500.000 penduduk, terutama di komunitas paling terdampak polusi dan kekurangan layanan.
“Sungai dan kanal adalah urat nadi bagi jutaan penduduk Dhaka. Namun urbanisasi cepat dan pertumbuhan industri tak terkendali melampaui kapasitas kota untuk mengelola limbah dan polusi, berdampak pada kesehatan publik, lingkungan, dan ekonomi,” ujar Jean Pesme, Direktur Divisi Bank Dunia untuk Bangladesh dan Bhutan, 10 Februari 2026.
“Program ini membangun fondasi kelembagaan untuk menurunkan polusi dan memulihkan kesehatan sungai dan kanal Dhaka secara berkelanjutan.”
Krisis Air dan Limbah di Dhaka
Dhaka menghadapi tantangan serius: hanya 20 persen penduduk memiliki sambungan saluran pembuangan, dan 2 persen menggunakan manajemen lumpur tinja fungsional.
Lebih dari 80 persen limbah domestik dan limbah cair tidak diolah langsung dibuang ke sungai dan kanal. Setengah kanal Dhaka sudah hilang atau tersumbat, memperparah polusi.
Program ini mengambil pendekatan holistik, melibatkan sektor publik dan swasta, serta pemerintah kota. Fokusnya mencakup peningkatan layanan, penguatan regulasi, dan restorasi sungai serta kanal dengan mengurangi polusi dan mengembalikan kapasitas aliran air.
Polusi Industri: Ancaman Kesehatan dan Lingkungan
Polusi industri juga parah: sekitar 80 persen pabrik garmen ekspor berada di Dhaka, dengan lebih dari 7.000 pabrik membuang 2.400 juta liter limbah cair tak diolah setiap hari, menyebabkan penyakit kulit, diare, dan gangguan neurologis.
Program ini mendorong partisipasi swasta untuk memperluas pengolahan limbah industri, memanfaatkan kembali air, dan meningkatkan efisiensi air guna menekan polusi.
Pemantauan Digital dan Restorasi Sungai
“Program ini merupakan fase awal dari keterlibatan jangka panjang untuk mendukung agenda keamanan dan ketahanan air Bangladesh,” kata Harsh Goyal, Spesialis Senior Air Bersih dan Sanitasi Bank Dunia.
“Fokus fase ini pada pengurangan polusi ke badan air Dhaka, penguatan sistem monitoring institusional dan regulasi, pembuatan indeks kualitas air komprehensif, pemantauan polusi digital real-time, dan rencana restorasi terintegrasi untuk empat sungai utama Dhaka.”
Fase pertama mencakup Dhaka dan Narayanganj, dengan peningkatan cakupan pengumpulan sampah primer, prioritas untuk komunitas yang dekat kanal dan sungai.
Program juga akan memperbarui sistem daur ulang, menjalankan kampanye kesadaran masyarakat, serta menegakkan aturan untuk menghentikan pembuangan sampah, pembuangan limbah domestik langsung ke saluran, dan limbah industri ke sungai dan kanal.
Sejak kemerdekaan Bangladesh, Bank Dunia telah menjadi salah satu mitra pembangunan pertama, mengucurkan lebih dari $46 miliar dalam bentuk hibah, pinjaman bebas bunga, dan kredit lunak, serta saat ini memiliki komitmen berkelanjutan lebih dari $12 miliar dalam 43 proyek. (TR Network)
