JAKARTA — Krisis keanekaragaman hayati Indonesia semakin nyata.
Data terbaru dari organisasi konservasi Burung Indonesia yang dikutip Jumat (3/4/2026) mengungkapkan, sebanyak 159 spesies burung kini berada di ambang kepunahan—sebuah sinyal keras bahwa ekosistem nasional tengah berada dalam tekanan serius.
Dalam laporan Status Burung di Indonesia, tercatat:
– 29 spesies berstatus Kritis (Critically Endangered/CR)
– 49 spesies berstatus Genting (Endangered/EN)
– 81 spesies berstatus Rentan (Vulnerable/VU)
Meski secara total jumlah spesies burung di Indonesia relatif stabil, ancaman terhadap populasi justru terus meningkat dan makin kompleks.
Habitat Hancur, Perburuan Tak Terkendali
Perubahan penggunaan lahan menjadi ancaman paling dominan. Deforestasi dan fragmentasi habitat membuat banyak spesies kehilangan ruang hidup alaminya.
Di sisi lain, perburuan dan perdagangan burung untuk pasar peliharaan masih marak dan menjadi tekanan besar yang belum terkendali.
Fenomena ini menciptakan paradoks: data ilmiah semakin akurat, tetapi kondisi di lapangan justru semakin memburuk.
Indonesia: Surga Burung yang Kian Terancam
Hingga Januari 2026, Indonesia memiliki 1.834 spesies burung, dengan 538 spesies endemis—artinya hanya bisa ditemukan di wilayah Indonesia.
Sebaran spesies endemis menunjukkan:
– Sulawesi: 159 spesies (tertinggi)
– Maluku: 117 spesies
– Jawa–Bali: 80 spesies
– Papua: 75 spesies
– Nusa Tenggara: 62 spesies
– Sumatra: 54 spesies
– Kalimantan: 5 spesies
Angka ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia—namun juga sekaligus wilayah dengan risiko kehilangan spesies yang sangat tinggi.
Data Ilmiah Jadi Senjata Terakhir Konservasi
Head of Conservation & Development Burung Indonesia, Adi Widyanto, menegaskan laporan ini bukan sekadar dokumen ilmiah.
Data tersebut menjadi dasar penting dalam: Penilaian Daftar Merah IUCN, Identifikasi Important Bird Areas (IBA), Penetapan Key Biodiversity Areas (KBA) dan Perencanaan program konservasi lintas lembaga.
Artinya, masa depan burung Indonesia kini sangat bergantung pada bagaimana data ini diterjemahkan menjadi aksi nyata.
Stabil di Atas Kertas, Kritis di Alam
Laporan ini juga mengungkap fakta mengkhawatirkan: jumlah spesies mungkin terlihat stabil, tetapi kualitas ekosistem terus menurun.
Perubahan status beberapa spesies menunjukkan bahwa tekanan ekologis semakin intens, meski sering tak terlihat secara kasat mata.
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan bukan hanya spesies, tetapi juga identitas ekologisnya sebagai salah satu megabiodiversity terbesar dunia. (TR Network)

Komentar