JAKARTA – Kunyit tak lagi sekadar dikenal sebagai rempah dan obat tradisional.
Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta mengejutkan: bakteri yang hidup di tanah sekitar rimpang kunyit memiliki potensi antikanker payudara yang sangat kuat, bahkan lebih efektif dibandingkan obat kemoterapi konvensional.
Penemuan ini berasal dari tanah rhizosfer kunyit (Curcuma longa L.), tempat hidup bakteri aktinomisetes yang ternyata mampu menghasilkan senyawa antikanker dengan toksisitas sangat rendah terhadap sel sehat.
Riset ini merupakan kolaborasi antara Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dan telah dipublikasikan dalam Journal of Applied Pharmaceutical Science Vol. 15 No. 3.
Tim peneliti berhasil mengisolasi tujuh bakteri aktinomisetes dari perkebunan kunyit di Karanganyar, Jawa Tengah. Dari seluruh isolat tersebut, satu bakteri dengan kode TC-ARCL7 menunjukkan hasil paling mencolok saat diuji secara in vitro terhadap sel kanker payudara T47D.
Aniska Novita Sari, peneliti BRIN sekaligus perwakilan tim, menjelaskan bahwa isolat TC-ARCL7 memiliki nilai IC50 hanya 0,2 µg/ml, jauh lebih rendah dibandingkan doxorubicin (obat kemoterapi), kurkumin murni, maupun ekstrak etanol kunyit.
Artinya, senyawa yang dihasilkan bakteri ini jauh lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan sel kanker.
“Yang lebih penting, bakteri ini hampir tidak merusak sel normal,” ujar Aniska Senin (2/2).
Uji toksisitas terhadap sel normal (Vero) menunjukkan tingkat keamanan yang sangat tinggi, sehingga isolat ini memiliki indeks selektivitas unggul—salah satu indikator penting dalam pengembangan obat kanker.
Temuan ini menegaskan bahwa potensi penyembuh tidak hanya berasal dari tanaman kunyit itu sendiri, tetapi juga dari mikroba yang hidup berdampingan dengannya.
Menurut Aniska, pendekatan ini membuka jalan baru dalam pengembangan obat berbasis bahan alam yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Secara molekuler, isolat TC-ARCL7 diketahui memiliki klaster gen biosintesis poliketida (PKS1 dan PKS2) yang berperan dalam produksi metabolit sekunder antikanker.
Analisis genetik menunjukkan bakteri ini berkerabat dekat dengan Kitasatospora misakiensis dan Kitasatospora purpeofusca, kelompok mikroba yang dikenal sebagai penghasil senyawa bioaktif penting dalam industri farmasi.
Meski hasilnya menjanjikan, Aniska menegaskan bahwa riset ini masih berada pada tahap awal. Tahapan lanjutan seperti pemurnian senyawa aktif, optimasi produksi metabolit, hingga uji pra-klinik masih harus dilalui sebelum dapat dikembangkan sebagai kandidat obat antikanker yang aman dan efektif.
“Kami berkomitmen melanjutkan penelitian ini agar manfaatnya benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat luas,” pungkasnya. (TR Network)
Komentar