TERNATE — Pengukuhan Guru Besar Bidang Genetik dan Konservasi Hewan/Ternak di Universitas Khairun, pada Sabtu (11/4/2026), terselip peringatan serius: Maluku Utara, yang menyimpan kekayaan genetik luar biasa, justru terancam kehilangan warisan biologisnya secara perlahan.
Prof. Dr. Sariffudin Fatmona dalam orasi ilmiahnya menegaskan bahwa wilayah kepulauan seperti Maluku Utara adalah “laboratorium genetik alami” yang memiliki keunikan ekologi, tingkat endemisitas tinggi, serta sejarah panjang interaksi manusia dengan ternak lokal dan satwa liar.
Namun ironi terjadi. Potensi besar tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dalam kebijakan pembangunan. Banyak sumber daya genetik ternak dan satwa lokal belum terdokumentasi secara ilmiah, belum dikarakterisasi secara molekuler, bahkan belum memiliki peta jalan konservasi jangka panjang.
“Jika tidak dikelola secara serius, kita bisa kehilangan kekayaan genetik tanpa pernah benar-benar memahaminya,” tegasnya.
Krisis Global, Ancaman Lokal
Dalam paparannya, Prof. Sariffudin mengaitkan kondisi Maluku Utara dengan krisis global yang tengah berlangsung—perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, dan ancaman ketahanan pangan.
Laporan global menunjukkan lebih dari 20 persen sumber daya genetik ternak dunia berada dalam kondisi terancam punah. Modernisasi peternakan yang berorientasi pada produktivitas tinggi telah mendorong dominasi beberapa rumpun ternak komersial, sementara ternak lokal yang adaptif justru semakin tersisih.
Padahal, di tengah tekanan iklim dan keterbatasan sumber daya, ternak lokal memiliki keunggulan yang tidak dimiliki ternak impor: tahan penyakit, mampu beradaptasi dengan pakan terbatas, dan cocok dengan kondisi lingkungan tropis.
Indonesia Kaya, Tapi Rentan
Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi, Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan besar dalam sumber daya genetik ternak. Namun tekanan persilangan tidak terkontrol, alih fungsi lahan, hingga ekspansi industri ekstraktif telah mempercepat erosi genetik.
Kondisi ini diperparah oleh kebijakan pembangunan yang cenderung berorientasi pada hasil jangka pendek, tanpa mempertimbangkan keberlanjutan genetik.
Akibatnya, fondasi peternakan nasional menjadi rapuh dan semakin bergantung pada impor bibit serta teknologi dari luar.
Maluku Utara dan Kekayaan yang Belum Tergarap
Sebagai bagian dari kawasan Wallacea, Maluku Utara menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa, termasuk ratusan spesies burung dan puluhan spesies endemik. Pulau Halmahera bahkan menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati penting di dunia.
Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembangunan peternakan dan konservasi. Banyak ternak lokal yang belum teridentifikasi secara genetik, padahal mereka menyimpan potensi adaptif yang sangat penting di tengah perubahan iklim.
Bagi masyarakat kepulauan, ternak lokal bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan sistem sosial.
Strategi Menyelamatkan Warisan Genetik
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Sariffudin mendorong pendekatan ilmiah berbasis riset dan konservasi terintegrasi.
Langkah-langkah strategis yang ditawarkan meliputi: Karakterisasi genetik berbasis molekuler, Pemuliaan ternak adaptif sesuai lingkungan lokal, Konservasi in situ di habitat asli, hingga Konservasi ex situ melalui bank gen dan teknologi kriopreservasi.
Menurutnya, kombinasi pendekatan ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian.
Riset Jadi Fondasi Kebijakan
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Sariffudin telah melakukan berbagai penelitian penting terkait sumber daya genetik ternak, mulai dari analisis morfometrik hingga kajian DNA seperti mtDNA, SNP, COI, dan D-loop.
Penelitian tersebut tidak hanya memperkuat basis data genetik regional, tetapi juga menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan konservasi dan pengembangan peternakan berbasis biodiversitas.
Menjaga Genetik, Menjaga Masa Depan
Orasi ini menegaskan satu hal penting: masa depan pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi oleh kemampuan menjaga keanekaragaman genetik dan keseimbangan ekosistem.
Ketergantungan pada sedikit jenis ternak komersial justru meningkatkan risiko krisis pangan di masa depan. Sebaliknya, plasma nutfah lokal menawarkan solusi berbasis adaptasi alami yang telah teruji oleh waktu.
“Menjaga sumber daya genetik bukan sekadar pelestarian, tetapi investasi bagi ketahanan pangan dan keberlanjutan peradaban,” pungkasnya.
Maluku Utara, dengan segala kekayaannya, kini berada di persimpangan: menjadi pusat kekuatan genetik masa depan, atau sekadar cerita tentang surga yang pernah ada namun terlupakan. (TR Network)

Komentar