JAKARTA — Arah pembangunan Indonesia kini memasuki fase penentuan.
Dengan target investasi nasional mencapai Rp2.175 triliun pada 2026, DPR RI menegaskan bahwa investasi hijau bukan lagi pilihan tambahan, melainkan taruhan utama bagi masa depan ekonomi Indonesia—apakah tumbuh berkelanjutan atau kembali terjebak pada pola lama yang eksploitatif.
Komisi XII DPR RI mengapresiasi kinerja Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani dalam menjaga iklim investasi nasional di tengah tekanan global. Namun lebih dari sekadar capaian angka, parlemen menekankan bahwa kualitas dan arah investasi akan menentukan wajah ekonomi Indonesia ke depan.
Anggota Komisi XII DPR RI Rokhmat Ardiyan menyatakan, target investasi 2026 tersebut sangat strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 6–7 persen, sekaligus mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih hijau dan inklusif.
“Target investasi 2026 bukan sekadar ambisi angka. Ini menyangkut arah masa depan Indonesia—apakah investasi benar-benar membawa kesejahteraan dan keberlanjutan,” ujar Rokhmat dalam Rapat Kerja Komisi XII DPR RI dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (3/2/2026).
Ia menilai, kinerja investasi nasional sejauh ini menunjukkan tren positif. Realisasi investasi tidak hanya melampaui target, tetapi juga telah menyerap sekitar 2,7 juta tenaga kerja.
Selain itu, arus investasi mulai bergeser dari dominasi Jakarta dan Pulau Jawa menuju Sulawesi, Sumatera, dan berbagai daerah lain, memperkuat pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, Komisi XII mengingatkan bahwa investasi—terutama yang mengusung label hijau—harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. UMKM, tenaga kerja lokal, dan perlindungan lingkungan disebut sebagai tolok ukur utama keberhasilan investasi, bukan sekadar besaran modal yang masuk.
Rokhmat juga menyoroti arah kebijakan investasi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang memprioritaskan sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT), hilirisasi industri, pertanian, dan kelautan. Sektor-sektor ini dinilai krusial dalam membangun fondasi ekonomi jangka panjang sekaligus menempatkan Indonesia dalam peta global transisi energi.
Menurutnya, investasi hijau menjadi kunci dalam pengembangan ekosistem industri masa depan, termasuk rantai pasok baterai dan energi bersih, yang tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga strategis secara geopolitik dan lingkungan.
Komisi XII DPR RI pun menyatakan komitmennya untuk mendukung Kementerian Investasi dan Hilirisasi melalui penguatan regulasi dan anggaran, guna memastikan investasi yang masuk benar-benar berorientasi pada keberlanjutan, ramah lingkungan, dan berkeadilan sosial.
“Investasi hari ini adalah warisan untuk generasi mendatang. Ini bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang memilih investasi yang bersih, hijau, dan terbarukan demi masa depan Indonesia,” tegas Rokhmat. (TR Network)
Komentar