News
Beranda / News / Megaproyek ‘Ka’bah Baru’ Arab Saudi Disetop karena Ancaman Emisi dan Krisis Air

Megaproyek ‘Ka’bah Baru’ Arab Saudi Disetop karena Ancaman Emisi dan Krisis Air

Master plan The Mukaab, proyek ambisius di ibu kota Riyadh yang sempat dijuluki sebagai ‘Ka’bah baru’. Arsip

RIYADH — Pemerintah Arab Saudi resmi menghentikan sementara pembangunan The Mukaab, proyek ambisius di ibu kota Riyadh yang sempat dijuluki sebagai ‘Ka’bah baru’.

Keputusan ini diumumkan pada 28 Januari 2026 setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan finansial serta dampak lingkungannya.

Proyek tersebut merupakan bagian utama dari kawasan futuristik New Murabba, yang dirancang sebagai simbol transformasi ekonomi dalam program besar Vision 2030.

Namun di tengah ambisi modernisasi, proyek raksasa ini justru menghadapi sorotan tajam terkait potensi lonjakan emisi karbon dan tekanan terhadap ketersediaan air di wilayah gurun yang memang minim sumber daya.

Ancaman Emisi dan Beban Energi Raksasa

The Mukaab dirancang sebagai bangunan kubus raksasa berukuran 400 meter x 400 meter x 400 meter. Di dalamnya akan terdapat kubah digital berbasis kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia, lengkap dengan struktur bertingkat menyerupai ziggurat setinggi lebih dari 300 meter.

Tambang Nikel Ilegal di Maluku Utara Diegel Tim Satgas PKH

Desain tertutup ini membutuhkan sistem pendingin udara dan pencahayaan buatan sepanjang tahun — sebuah kebutuhan energi yang dinilai sangat besar di tengah suhu ekstrem Riyadh.

Kritik muncul karena proyek tersebut dinilai bertolak belakang dengan semangat keberlanjutan yang digaungkan melalui Saudi Green Initiative, yang menargetkan pengurangan emisi dan peningkatan ruang hijau perkotaan.

Proses konstruksi juga diperkirakan menghasilkan limbah dalam volume besar, sementara distribusi material dan operasional gedung berpotensi meningkatkan jejak karbon secara signifikan.

Krisis Air Jadi Sorotan

Selain emisi, kebutuhan air menjadi isu krusial. Riyadh berada di kawasan kering dengan keterbatasan sumber air alami.

Sementara, bangunan berskala masif seperti The Mukaab diprediksi memerlukan pasokan air dalam jumlah besar, baik untuk konstruksi maupun operasional jangka panjang.

9 Hektare Hutan Produksi Dibabat di Wajo, Dalang Terancam 10 Tahun Penjara

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keberlanjutan proyek di tengah tantangan perubahan iklim global.

Evaluasi Anggaran di Tengah Ambisi Besar

Penghentian ini juga sejalan dengan langkah pengetatan belanja oleh Public Investment Fund (PIF), lembaga dana kekayaan negara yang mengelola aset sekitar US$925 miliar.

Di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Vision 2030 memang menjadi pilar diversifikasi ekonomi Saudi agar tak lagi bergantung pada minyak. Namun realisasi megaproyek bernilai fantastis kini menghadapi tekanan efisiensi fiskal.

Barometer Transformasi atau Beban Ekologis?

Selain isu lingkungan, desain kubus raksasa ini sempat memicu kontroversi di media sosial karena dianggap menyerupai Ka’bah di kompleks Masjidil Haram, situs paling suci umat Islam.

Kini, penghentian The Mukaab menjadi sinyal bahwa bahkan ambisi terbesar sekalipun tak lepas dari tekanan realitas: antara modernisasi, disiplin anggaran, dan tuntutan keberlanjutan.

Tragis! Anak Gajah di Tesso Nilo Ditemukan Membusuk dengan Luka Jerat

Arab Saudi menghadapi pertanyaan mendasar — mampukah Visi 2030 berjalan selaras dengan komitmen iklim dan konservasi sumber daya di era krisis lingkungan global? (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *